Saturday, June 9, 2018

Minority of Muslim in England

History of Muslim Minorities in Britain - European Muslims are indeed a minority population. Their challenge as a minority living in the non-Muslim majority makes them work hard to earn their rights.

Very difficult indeed, because Islam is a religion that has a bad image in the eyes of Europe.

Western (Europe) often reinforces parallelism between Islam and danger or threats, Islam is perceived as a dangerous and threatening religion by giving names of Islamic Militants, Islamic Fundamentalism, and even terrorism.

Muslims in Europe are somewhat more of a struggle than Muslims in predominantly Muslim countries.

Because they are under non-Islamic rule and apply systems that are also not Islamic systems, therefore, the Muslim population in Europe is highly dependent on the democracy applied by every country.

Democracy serves as a refuge for the minority population (including Islam) to get their rights as citizens.


Also Read: History of Muslim Minorities in France

The origins of Muslims in England


History of Muslim Minorities in Britain - Muslim history in Britain has something in common with France that encounters its roots in the colonization of the East.

The first immigrants who came first to Britain were from Yemen and Aden. They assembled themselves at Carfiff and there they built the first mosque in England in 1870.

Before the turn of the century came another Muslim group from India and settled in the area of ​​London, where they mambuat mosque Shah Jehan in Woking.

By the end of World War II, Britain's Muslim population had reached 50,000. In 1971, there were about half a million Muslims in Britain or 1.8% of the population. This figure in 1982 rose to 1.250.000 Muslims. (2.2% of the population).

The Muslim community in Britain is better organized than Muslims in France or even in West Germany. By 1982, at least 700,000 of the Muslims were British citizens.

Overall Muslims in Britain are slightly higher in their social status than Muslims in France and West Germany. They consist of professionals, doctors, engineers and other employees who have high positions.

In terms of organizational, Muslims in Britain are still organizing on a local scale, still do not have a national organization.

Usually each organization at the local level has its own mosque. there are about a hundred mosques in Greater London, fifty in Lancashire, forty in Yorkshire, and thirty in Minlands.

Also Read: Mustafa Kemal and the Modern Turkish Republic


Discrimination

History of Muslim Minorities in Britain - In relation to the discriminations experienced by Muslims in the UK there is not much going on, but it is undeniable that discrimination will inevitably be found in minorities because of the difference with the majority.

For example, the Women and Equality Committee in the UK says Muslim women are three times less likely to work and are more difficult to find a job than women in general, and more than twice as economically inactive.
Anti-Islamic attitude is still giving a big enough influence. Nearly 71% of Muslim women do not work, in contrast to white Christian women, who actually have the same skills and level of education.

It turned out to still be a terrible scourge for British Muslimah. However, it is appreciated that Muslims in Britain are slightly better than other European countries. because of the social status it has.

Read Also: The Thought of Muhammad Iqbal and the Establishment of the State of Pakistan

REFERENCE

Esposito, John L. 1996. Ancaman Islam Mitos atau Realita?. Bandung: Mizan.
Kettani, Ali, 2005.Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Thursday, May 3, 2018

Review Film BILAL a New Breed of Hero: Tontonan Kekinian Berbau Pesan Agama dan Kemanusiaan



Review kali ini saya buat setelah saya menonton film berjudul BILAL tersebut. 

Film ini disutradarai dan diproduseri oleh Aiman Jamal. Rilis pada tahun 2018.

Saya menilai bahwa film bilal memang bukanlah film yang menceritakan tentang adegan sejarah yang terjadi pada masa lalu.

Film ini lebih fokus ingin menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan yang dibawakan oleh agama Islam.

Islam yang datang sebagai agama yang terakhir di bumi ini juga memiliki misi kemanusiaan yang juga sangat besar.


Dalam uraian sejarahnya, Bilal adalah seorang budak hitam yang dimiliki oleh Umayyah bin Khalaf, seorang pedagang kaya di Arab.

Bilal, adalah seorang teman dari budak yang sangat kuat yaitu Washi (yang membunuh Hamzah bin Abdul Mutholib dengan tombaknya).

Akan tetapi dalam film tersebut tidak ditampakkan sama sekali tentang peran seorang Washi yang kuat dan sering memenangkan kontes pertarungan dan dibanggakan oleh tuannya.

Bilal masuk Islam, dan mendapatkan pencerahan oleh Islam.

Ia dengan keislamannya tersebut kemudian disiksa oleh majikannya dan ditimpali dengan batu besar.

Akhirnya ia ditebus oleh Abu Bakr dengan harga yang sangat mahal.

Bilal kemudian dimerdekakan oleh Abu Bakr.

Ia menjadi sahabat setia Rasulullah SAW, dan mendapatkan kedudukan yang sama dengan muslimin lainnya.

Bilal sering memberikan pemahaman kepada Washi dalam mengikuti jejaknya untuk beriman kepada Allah, akan tetapi Washi menolaknya dan berakhir pada peristiwa Fathul Makkah, Washi pun masuk Islam.

Dalam film tersebut, bilal menjadi sangat heroik, meskipun pada kenyataannya kehebatan dan kekuatan Bilal sangat jauh dengan kekuatan Washi.

Baca Juga : Kondisi Arab Pra Islam

Adegan-adegan yang disajikan juga banyak yang tidak sesuai dengan realita,

Misalnya orang Arab yang tidak memakai Sorban di kepala, dan penggambaran seorang Umayya yang terkesan sangat jahat (meskipun pada kenyataanya tidak semacam itu), seorang Hamzah bin Abdul Mutholib yang bersama Bilal hendak menyelamatkan Ghufaira kembali ke Makkah, perang Uhud yang tidak ditampilkan, dan kematian Hamzah, dan tentunya masih banyak lagi adegan yang tidak sesuai dengan realita.

Namun terlepas dari hal itu, kita mengacu pada kalimat diatas , saya menilai bahwa film ini bukanlah film sejarah.

Film ini mengajarkan bagaimana seharusnya pesan-pesan perdamaian itu harus benar-benar ditegakkan.

Dalam konteks ini adalah Islam sebagai agama penyebar misi kemanusiaan, dan kesetaraan.

Adegan-adegan didalamnya saya rasa menggambarkan keadaan sosial yang memang terjadi pasa Arab Jahiliyah.

Umayyah bin Khalaf bukanlah orang yang sekejam dan seseram itu, akan tetapi karakter yang dibawakan oleh Umayyah adalah cerminan dari ia sebagai seorang yang menentang kesetaraan yang mencederai misi kemanusiaan.

Kecaman dan ketakutan yang dirasakan oleh Bilal tercermin juga dalam suasana yang gelap ketika ia disiksa dan ke”ngerian” wajah yang ditempilkan oleh Umayya sebagai majikannya.

Abu Bakr dengan lemah lembutnya ia digambarkan sebagai orang yag memberikan misi perdamaian dan menjadi pahlawan bagi Bilal.

Adegan film tersebut kurang menunjukkan tentang keadaan sosial dan keyakinan masyarakat Arab Jahiliyah pada saat itu.

Akan tetapi keadaan sosial dan agama yang dianggap sebagai musuh pada fil ini digambarkan dalam bentuk seorang tokoh dan keadaan yang mencekam.

Film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton sebagai bahan refleksi dan motivasi diri tentang ajaran Islam dalam rangka perbaikan masalah sosial dan kemanusiaan.

Anda bisa menontonnya dengan mempertimbangkan dan mencari tahu mana yang merupakan realita sejarah dan mana yang merupakan cerminan dari sebuah kondisi pada masa lalu, yang digambarkan melalui seorang tokoh atau sebuah suasana.

Terlepas dari berbagai kontroversi dan pro kontra akan hadirnya film ini. saya menilai secara keseluruhan film ini sangat bagus dan layak untuk ditonton.

Tonton trailer nya di bawah ini :

Wednesday, March 28, 2018

Nasab Nabi Muhammad Sampai Nabi Adam


Ada tiga bagian nasab nabi Muhammad saw, yaitu nasab dari Nabi Muhammad ke Adnan (kebenarannya disepakati oleh pakar biografi), nasab dari Adnan ke Nabi Ibrahim (masih dalam perdebatan), dan nasab dari Nabi Ibrahim ke Nabi Adam (sudah pasti kebenarannya).

Nasab bagian pertama, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib, bin Hasyim, bin Abdul Manaf, bin Qushay, bin Kilab, bin Murrah, bin Ka’b, bin Lu’ay, bin Ghalib, bin Fihr (Quraisy), bin Malik, bin An-Nadhr, bin Kinanah, bin Khuzaimah, bin Mudrikah, bin Ilyas, bin Mudhar, bin Nizar, bin Ma’ad, bin Adnan.


Baca Juga : Kondisi Arab Pra Islam

Bagian kedua, Adnan, bin Udad, bin Hamaisa’, bin Salaman, bin Aush, bin Bauz, bin Qimwal, bin Ubay, bin Awwam, bin Nasyid, bin Haza, bin Baldas, bin Yadlaf, bin Thabikh, bin Jahim, bin Nahisy, bin Makhi, bin Aidh, bin Abqar, bin Ubaid, bin Ad-Da’a, bin Hamdan, bin Sinbar, bin Yastribi, bin Yahzan, bin Yalhan, bin Ar’awy, bin Aid, bin Daisyan, bin Aishar, bin Afnad, bin Aiham, bin Muqshir, bin Nahits, bin Zarih, bin Sumay, bin Muzay, bin Iwadhah, bin Aram, bin Qaidar, bin Ismail As, bin  Ibrahim As.


Bagian ketiga, Ibrahim As, bin Tarih (Azar), bin Nahur, bin Saru’ (Sarugh), bin Ra’u, bin Falakh, bin Aibar, bin Syalakh, bin Arfakhsyad, bin Sam, bin Nuh As, bin Lamk, bin Matausyalakh, bin Akhnukh (Idris As), bin Yard, bin Mahla’il, bin Qainan, bin Yanisya, bin Syaits, bin Adam As.


Sumber :
Syaikh Syafiyyurrahman Almubarakfuri. 2015. Sirah Nabawiyah. Terj. Kathur Suhardi Jakarta: Pustaka Alkautsar.

Thursday, March 22, 2018

Kondisi Arab Pra Islam


Kondisi Politik


Kondisi politik di Arab pra Islam itu terdiri dari kabilah-kabilah,  kabilah merupakan sebuah pemerintahan kecil yang asas eksistensi politiknya adalah kesatuan fanatisme. Tiap satu kabilah memiliki pemimpin tersendiri. 

Kedudukan seorang pemimpin kabilah ditengah rakyatnya bagaikan seorang raja.

Apabila dalam kondisi peperangan, pemimpin kabilah bebas memerintah anggota kabilah layaknya seoran diktator yang memimpin sebuah negara.

Pemimpin kabilah memiliki hak-hak yang istimewa, ia mendapatkan seperempat dari harta rampasan perang yang diambil untuk dirinya sendiri sebelum dibagikan kepada anggota kabilah lainnya.


Kondisi politik semacam itu dapat diidentifikasi bahwa sistem diktator lah yang menjadi cerminannya. Akan tetapi kekuasaan di Hijaz di mata bangsa Arab memiliki kehormatan tersendiri. 

Mereka berkuasa di tanah suci dalam rangka mengurus para peziarah yang datang ke Ka’bah.






Kondisi Sosial Ekonomi



Di kalangan bangsa Arab terdapat beberapa kelas masyarakat, yang kondisinya berbeda satu sama lain. 

Hubungan seorang dengan keluarga di kalangan bangsawan sangat diunggulkan, dan dihormati, dan di jaga, sekalipun harus dengan menggunakan pedang. 

Seorang wanita tidak bisa memilih pasangan pria nya, karena menyerahkan semua urusan pendamping kepada walinya.

Sedangkan masyarakat dikalangan bawah, pernikahan tidak terjadi sebagaimana dilakukan oleh kalangan bangsawan. 

Perkawinan kalangan bawah terdiri dari empat jenis, yaitu perkawinan secara spontan, perkawinan istri kepada orang lain atas perintah suami, perkawinan poliandri, dan perkawinan seorang pelacur.

Sedangkan kondisi ekonomi bangsa Arab pra Islam, perdagangan merupakan sarana paling dominan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan di Jazirah Arab, ketentraman hanya bisa didapat pada bulan-bulan suci. 

Pada saat itula pasar-pasar yang sangat terkenal seperti Ukazh, Dzil Majaz, Majinnah, dll dibuka.

Bangsa Arab juga mengenal kerajinan-kerajinan sebagai sarana memutar roda perekonomian. Kebanyakan hasil kerajinan yang ada di Arab seperti jahit menjahit, menyamak kulit dll berasal dari Yaman, Hirah, dan pinggiran Syam. 

Meskipun di tengah Jazirah ada pertanian dan pengembalaan hewan ternak.



Kondisi Agama dan Akhlak masyarakat

Mayoritas bangsa Arab mengikuti dakwah Nabi Ismail, ketika ia menyeru pada agama Ibrahim, yang mengajurkan untuk menyembah Allah dan mengesakan Allah.

Akan tetapi dengan berjalannya waktu yang lama, praktek keagamaan yang dilakukan oleh bangsa Arab semakin menyimpang. 

Orang-orang musyrik mengaku berada pada agama Ibrahim justru mereka jauh sekali dari perintah dan syariat Nabi Ibrahim. 

Mereka menyembah berhala yang mereka buat sendiri. Berhala yang paling awal adalah Manat yang ditempatkan di tepi Laut Merah, kemudian mereka membuat Lata di Thaif, dan Uzza di Wadi Nakhlah. 

Inilah tiga berhala yang paling besar. Akan tetapi masih juga banyak berhala-berhala kecil yang bertebaran di setiap tempat di Hijaz.