-->

Kemajuan Ilmu Pengetahuan Masa Dinasti Abbasiyah

KEMAJUAN DALAM BIDANG KEDOKTERAN

Ibn Sina/Avicena
Pertama, kemajuan dalam bidang kedokteran. 

Berbagai buku terjemahan dari Yunani dan Persia yang telah di bahas sebelumnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu ini. 

Orang pertama adalah dokter kristen Jibril ibn Bakhtisyu’, yang tidak berhasil memperoleh tubuh manusia untuk di lakukan pembedahan karena adanya larangan dari ajaran Islam, sehingga ia menggantikan dengan tubuh monyet. 

Jibril merupakan dokter pribadi Harun al Rasyid, dengan begitu, kekayaan Jibril bisa di bilang tidak sedikit. 

Dalam bidang kedokteran orang Arab sangatlah maju. 

Mereka lah yang membangun apotek pertama, mendirikan sekolah farmasi pertama, dan menghasilkan buku daftar obat-obatan.

Khalifah harun al Rasyid membangun rumah sakit pertamanya pada awal abad ke-9 mengikuti model dari Persia. 

Setelah itu jumlah rumah sakit pun semakin bertambah. 

Saking banyak nya dokter pada saat itu, pernah terjadi juga sebuah malpraktik yang di lakukan oleh para dokter, 

sehingga khalifah pada saat itu menerapkan kebijakan melakukan seleksi terhadap para dokter dan memberikan sertifikat (ijazah) terhadap dokter yang telah memberikan pelayanan yang memuaskan. 

Para penulis utama dalam bidang kedokteran setelah babak penerjemahan besar itu adalah orang Persia yang menulis kedalam bahas Arab: Ali al Thabari, al Razi, Ali ibn al Abbas al Majusi dan Ibn Sina. 

Gambar dua orang di antara mereka, al Razi dan Ibn Sina menghiasi ruang besar fakultas kedokteran di Universitas Paris. 

Karya besar Ali al Thabari adalah Firdaws al Hikmah (Surga Hikmah). 

Beberapa karya dari al Razi adalah al Aswar (buku tentang rahasia), Kitab al Thiib al Manshuri, dan al Hawi. 

Karya dari Ali ibn al Abbas al Majusi adalah al Kitab al Maliki

Sedangkan karya besar dari ibn Sina dalam bidang kedokteran adalah Kitab al Syifa’ (buku tentang penyembuhan) dan al Qanun fi al Thiib. 

Tentunya masih banyak para dokter dengan berbagai karyanya, tapi tidak memungkinkan apabila di bahas di uraian yang singkat ini.

KEMAJUAN DALAM BIDANG FILSAFAT

Al Farabi/ Pharabius
Kedua, dalam bidang filsafat. 

Filsafat yang dikembangkan dalam dunia Islam secara khusus berakar pada tradisi filsafat Yunani, yang di modofikasi dengan pemikiran para penduduk di wilayah taklukan. 

Nama-nama besar dalam bidang filsafat Arab adalah al Kindi, al Farabi dan Ibn Sina. 

Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq al Kindi  adalah filsuf pertama dalam islam, ia keturunan Arab sehingga memperoleh gelar “filosof bangsa Arab”. 

Al Kindi menggunakan pemikiran Neo Platonis untuk menggabungkan pemikiran antara Plato dan Aristoteles, 

serta menjadikan neo Phytagorean sebagai landasan semua ilmu.

Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan Abu Nashr al Farabi (Alpharabius), 

seorang filsuf keturunan turki yang sistem filsafatya merupakan campuran antara Platonisme, Aristotelianisme dan mistisisme. 

Yang membuatnya di juluki “Guru kedua” setelah Aristoteles. 

Beberapa karya terbaiknya dalam bidang filsafat adalah Risalah Fushush al Hikam (Risalah Mutiara Hikmah), Risalah fi Ara’ Ahl al Madinah al Fadhilah (Risalah tentang Pendapat Penduduk Kota Ideal) dan al Siyasah al Madaniyah (Politik Madani) dll.

Setelah al Farabi, adalah Ibn Sina. Filosof sekaligus dokter ini mengadopsi pendangan filosofis al Farabi. 

Ibn Sina adalah seorang pemikir yang sanggup menyatukan berbagai kebijaksanaan Yunani dengan pemikirannya sendiri yang di persembahkan untuk kalangan muslim terpelajar dalam bentuk yang mudah di cerna. 

Selain ketiga filosof besar di atas ada beberapa filosof lain yang juga berperan penting dalam berkembangnya ilmu filsafat di dunia Islam seperti Ihwan al Shafa’, Ibn Bajah, Ibn Tufail dan Ibn Rushd. 

KEMAJUAN DALAM BIDANG ASTRONOMI DAN MATEMATIKA

Ketiga, kemajuan ilmu astronomi dan matematika. Kajian ilmiah perbintangan di lakukan seiring dengan masuknya pengaruh buku India, Shiddanta yang di bawa ke Baghdad. 

Singkatnya, pada awal abad ke-9 al Ma’mun membangun sebuah observatorium dengan supervisor seorang Yahudi yang baru masuk Islam Sind ibn ‘Ali dan Yahya ibn abi Manshur. 

Di observatorium itu para astronom kerajaan tidak hanya mengamati dengan seksama sistematis berbagai gerakan benda-benda langit 

tetapi juga menghasilkan amatan yang sangat akurat tentang sudut ekliptik bumi, ketepatan lintas matahari, dan sebagainya.

Al Ma’mun membangun lagi sebuah observatorium di bukit Kasiyun di luar Damaskus. 

Ibrahim al Farazi adalah orang Islam pertama yang membuat astrolob. 

Ahli astronomi al Ma’mun melakukan salah satu perhitungan yang sangat rumit tentang luas permukaan bumi. 

Tujuannya adalah untuk menentukan ukuran bumi dan kelilingnya dengan asumsi bahwa bumi berbentuk bulat. 

Al Khawarizmi adalah salah satu tokoh ternama yang berkontribusi dalam penelitian itu. 

Seorang ahli astronom lain yang terkenal pada masa itu adalah Abu al Abbas Ahmad al Farghani. 

Karya utamanya adalah al Mudkhil ila ‘Ilm Hay’ah al Aflak. Sedangkan seorang astronom yang terbesar pada masa Islam adalah Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Jabir al Battani. 

Ia mengoreksi beberapa kesimpulan Ptomelius dalam karya-karyanya. 

Dan memperbaiki perhitungan orbit bulan, juga beberapa planet. 

Ia membuktikan kemungkinan terjadinya gerhana matahari cincin, menentukan sudut ekliptik bumi dengan tingkat keakuratan yang lebih besar, dan mengemukakan berbagai teori orisinal tentang kemungkinan munculnya bulan baru.

Dalam bidang Ilmu Pengetahuan alam terdapat Abu al Rayhan Muhamad ibn Ahmad al Biruni. 

Ia menulis sebuah buku yang berjudul al Qanun al Mas’udi fi al Hay’ah wa al Nujum

Pada tahun yang sama ia menyusun sebuah buku tentang rumus-rumus geometri, aritmatika, astronomi dan astrologi yang berjudul al Tafhim li awa’il Shina’ah al Tanjim. 

Serta tokoh-tokoh lain yang juga berperan penting adalah Jalaluddin Maliksyah seorang sultan saljuk yang membangun sebuah observatorium di Rayy atau Naisabur, dengan tokoh terkenalnya yaitu ‘Umar al Khayyam, yang berhasil membuat kalender yang di beri nama dengan nama sultan, al Tarikh al Jalali.  

Nashr al Din, ahli astronomi-filosof terakhir dinasti Abbasiyah. 

Perangkat yang di gunakan di observatorium itu sangat mengagumkan, meliputi model galaksi tata surya, mural quadrant dan solstitial armil

Di observatorium ini, Nashir al Din menyusun tabel astronomi baru yang di sebut al Zij il Khani. 

Tabel itu menjadi populer di seluruh Asia, bahkan di Cina, saat ini fondasi observatorium yang berusia singkat itu masih tersisa.

Adapun dalam bidang astrologi terdapat Abu Ma’syar. Ia layak di kemukakan sebagai ahlinya yang paling terkenal. 

Muhammad ibn Musa al Khawarizmi seorang pemikir Islam terbesar. 

Ia menulis karya tertua tentang aritmatika yang hanya di ketahui lewat terjemahannya dan tentang aljabar. 

Karyanya Hisab al Jahr wa al Muqabalah, telah di terjemahkan ke dalam bahas latin dan berhasil memperkenalkan aljabar ke daratan Eropa. 

Karya-karya al Khawarizmi juga turut berperan memperkenalkan ke benua Eropa tentang angka-angka Ara yang di sebut Algoritma. 

Aljabar al Khayyam merupakan pengembangan lebih jauh Aljabar Khawarizmi, membahas solusi pecahan tingkat dua dengan menggunakan geometri dan aljabar.

KEMAJUAN DALAM BIDANG KIMIA

Keempat, setelah ilmu kedokteran, filsafat, astronomi dan matematika, orang Arab memberikan kontribusi ilmiah terbesar dalam bidang kimia. 

Bapak kimia bangsa Arab adalah Jabir ibn Hayyan, Jabir percaya pada pendapat bahwa logam biasa seperti seng, besi dan tembaga bisa di ubah menjadi emas. 

Lima dari karya-karya yang di nisbatkan  kepada Jabir, termasuk: Kitab al Rahmah (Buku Cinta), Kitab al Tajmi (Buku tentang Koensentrasi), al Zi’baq al Syarqi (Air Raksa Timur).   

Selain Jabir, juga ada kimiawan lainnya seperti al Thughra’i dan Abu al Qasim Al ‘Iraqi. 
 

KEMAJUAN DALAM BIDANG GEOGRAFI


Kelima, yaitu kemajuan dalam ilmu geografi. 

Kewajiban melaksanakan ibadah haji, keharusan menghadapkan mihrab masjid ke arah Makkah, dan penentuan arah Ka’bah ketika salat telah memberikan nilai  keagamaan kepada orang Islam dalam mempelajari geografi. 

Beberapa tokoh yang ahli  dalam ilmu geografi berikut karya-karyanya adalah: al Khawarizmi, Surah al Ardh (Gambar/Peta Bumi). 

Ibn Khurdadzbih, al Masalik wa al Mamalik. Ibn Wadhih al Yaqubi, Kitab al Buldan (Buku Negeri-negeri). Qudamah, al Kharaj.  

Ibn Rustah, al A’laq al Nafisah (Kantung Berharga). Ibn al Faqih al Hamadzani, Kitab al Buldan. Al ishthakhri, Masalik al Mamalik

Al Maqdisi, Ahsan al Taqasim fi Ma’rifah al Aqalim (Klasifikasi Ilmu Geografi yang Terbaik). 

Beberapa aspek tertentu dari geografi astronomi, termasuk teori yang nyaris akurat tentang sebab air pasang, yang di rumuskan oleh Abu Ma’syar, dan teori tentang besar sudut bumi, masuk ke dunia barat melalui terjemahan karya al Farghani tentang astronomi.
Labels: SEJARAH ISLAM

Thanks for reading Kemajuan Ilmu Pengetahuan Masa Dinasti Abbasiyah. Please share...!

0 Komentar untuk "Kemajuan Ilmu Pengetahuan Masa Dinasti Abbasiyah"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top