-->

Pemikiran Ibn Rusyd dalam Filsafat Islam

Kemajuan peradaban Islam ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, hal ini memang relevan, karena dengan majunya ilmu pengetahuan, 

maka kualitas sumber daya manusia akan berkembang, sehingga dapat menghasilkan hasil-hasil peradaban yang dapat memajukan sebuah bangsa.

Selain bidang sains dan tekonologi, berkembang pula ilmu filsafat dalam Islam. 

Filsafat yang sebelumnya di rasa kurang cocok masuk ke dalam Islam ternyata bisa dipakai sebagai alat untuk berpikir dengan cara rasional dalam Islam. 

Karena untuk memahami teks-teks yang terdapat dalam Al Qur’an diperlukan penalaran yang lebih mendalam. 

Dan hal itu juga telah di sebutkan dalam al Qur’an bahwa setiap manusia di anjurkan untuk berpikir.

Dengan begitu banyak muncul para filosof-filosof muslim yang lahir dalam dunia Islam dan menggunakan filsafat Yunani sebagai alat untuk menciptakan sebuah konsep tentang filsafat agama, dalam hal ini adalah Islam. 

Diantaranya adalah al Kindi, al Farabi, ibn Sina, ibn Rusyd, dan tentunya masih banyak lagi. Maka dalam tulisan ini, penulis akan sedikit membahas mengenai Pemikiran ibn Rusyd dalam filsafat Islam.

BIOGRAFI IBN RUSYD 

Ibn Rusyd lahir di Cordova pada tahun 1226 M, ia lahir dikalangan ahli hukum. Nenek dan orang tuanya mempunyai kedudukan hakim agung. 

Nama lengkapnya adalah Abu al Wahid Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd, akan tetapi lebih dikenal dengan sebutan Ibn Rusyd. 

Pada masa mudanya, ibn Rusyd belajar teologi Islam, ilmu kedokteran, matematika, astronomi, sastra dan falsafat. 

Pada tahun 1169 M, ia diangkat untuk menjadi hakim di Seville dan kemudian pada tahun 1182 ia diangkat menjadi hakim di Cordova.

Dari keahlian dan kecerdasan yang dimiliki oleh ibn Rusyd, tidak heran jika ia mendapatkan perhatian yang lebih bahkan diberikan kedudukan dan penghargaan yang tinggi dari khalifah. 

Ibn Rusyd banyak memusatkan perhatiannya kepada filsafat Aristoteles, selain ia menulis buku tentang pemikirannya senidiri, ia juga banyak menulis buku tafsiran-tafsiran tentang filsafat Aristoteles. 

Buku-buku Rusyd mengenai filsafat Aristoteles banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, dan berpengaruh bagi ahli-ahli pikir Eropa 

sehingga ia diberi gelar Penafsir Commentator, yaitu penafsir dari filsafat Aistoteles. 

Sehingga melahirkan aliran Aveorism dalam Eropa. yaitu aliran yang bertuju kepada filsafat Ibn Rusyd yang banyak menafsirkan filsafat Aristoteles.

Mengenai aliran Averoism ini terjadi sedikit keganjalan, dalam aliran ini menganggap bahwa filsafat adalah mengandung kebenaran, 

sedangkan sedangkan agama dan wahyu membawa hal yang tidak benar. 

Maka hal ini sangat bisa dipastikan bertentangan dengan filsafat ibn Rusyd, yang notabene nya ibn Rusyd merupakan seorang Muslim, 

dan tentunya dirasa tidak mungkin apabila memiliki pemikiran yang semacam itu. 

Ibn Rusyd bahkan menganggap bahwa akal dan wahyu merupakan hal yang sama-sama membawa kebenaran.


PEMIKIRAN IBN RUSYD TENTANG AKAL DAN WAHYU

Pemikiran ibn Rusyd dalam filsafat Islam yang pertama dibahas disini adalah pemikiran akal dan wahyu. 

Menurut ibn Rusyd, akal dan wahyu merupakan suatu hal yang tidak bertentangan, keduanya memiliki sifat kebenaran. 

Karena pada dasarnya Al Qur’an juga telah mewajibkan orang untuk memperguna-kan akal nya seperti yang terdapat dalam dalam QS Al A’raf :185, yang artinya 

“Apakah mereka tidak memikirkan (bernalar) tentang kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah”.

Bagi ibn Rusyd tugas filsafat adalah tidak lain dari berpikir tentag wujud untuk mengetahui pencipta semua yang ada ini. 

Dan sekali lagi, ayat al Qur’an memerintahkan untuk berpikir. Dengan demikian Tuhan sebenarnya menyuruh manusia supaya berfilsafat. 

Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa berfilsafat adalah wajib atau sekurang-kurangnya sunat. 

Menurut ibn Rusyd, jika akal bertentangan dengan wahyu, maka teks wahyu harus diberikan interpretasi sedemikian rupa sehingga bisa sesuai dengan pendapat akal.

Agama Islam menurut ibn Rusyd, tidak mengandung dalam ajarannya hal-hal yang bersifat rahasia, seperti ajaran trinitas dalam ajaran agama kristen. 

Semua ajarannya dapat dipahami akal karena akal dapat mengetahui segala yang ada. 

Dari itu, iman dan pengetahuan akali merupakan kesatuan yang tidak bertentangan, karena kebenaran itu pada hakikatnya adalah satu.

Akan tetapi dalam agama ada ajaran tentang hal-hal yang ghaib seperti malaikat, kebangkitan jasad, sifat-sifat surga dan neraka dan lain lain yang tidak dapat dipahami oleh akal, 

maka hal-hal yang seperti itu merupakan simbol bagi hakikat akali. 

Dalam hal ini ia menyetujui pendapat al Ghazali yang mengatakan, wajib kembali kepada petunjuk-petunjuk agama dalam hal-hal yang tidak mampu akal memahaminya. 

Demikian pemikiran ibn Rusyd dalam filsafat Islam tentang akal dan wahyu.

 

BERBAGAI MACAM PEMIKIRAN IBN RUSYD

Bangunan Alam

Para filosof klasik mengatakan bahwa bentuk bundar adalah yang paling sempurna, sehingga gerak melingkar merupakan gerak yang paling afdhol. Gerak inilah yang kekal lagi azali. 

Dengan sebab gerak ini, maka jisim-jisim samawi memiliki bentuk bundar.

Manusia

Dalam masalah manusia, Ibn Rusyd juga dipengaruhi oleh teori Aristoteles. 

Sebagian dari alam, manusia terdiri dari dua unsur materi dan forma. 

Jasad adalah materi dan jiwa adalah forma. Seperti hal nya Aristoteles, Ibn Rusyd membuat definisi sebagai berikut “kesempurnaan awal bagi jisim alami yang organis”. 

Jiwa disebut sebagai kesempurnaan awal untuk membedakan dengan kesempurnaan lain yang merupakan pelengkap darinya, seperti yang terdapat pada berbagai perbuatan. 

Sedangkan disebut organis untuk menunjukkan kepada jism yang terdiri dari anggota-anggota.

Kenabian dan Mu’jizat

Allah menyampaikan wahyu kepada manusia melalu Rasulnya, dan sebagai bukti kerasulannya maka ia harus membawa tanda yang disebut Mu’jizat. 

Pada seorang Rasul, mu’jizat itu meliputi dua hal, yang berhubungan dengan ilmu dan yang berhubungan dengan amal. 

Sederhannya ibn Rusyd membedakan ada dua jenis mu’jizat, yaitu mu’jizat eksternyang tidak sejalan dengan sifat dan tugas kerasulan, seperti menyembuhkan penyakit, membelah bulan dan sebagainya. 

Dan yang kedua yaitu mu’jizat intern yang sejalan dengan sifat dan tgas kerasulan yang membawa syariat untuk kebahagian umat manusia.

Politik dan Akhlak

Seperti yang telah disebut oleh Plato, Ibn Rusyd mengatakan, sebagai makhluk sosial, manusia perlu kepada pemerintah yang di dasarkan kepada kerakyatan. 

Sedangkan kepala pemerintah dipegang oleh orang yang telah menghabiskan sebagian umurnya dalam dunia filsafat.

Baca Juga :  
Labels: PEMIKIRAN

Thanks for reading Pemikiran Ibn Rusyd dalam Filsafat Islam. Please share...!

0 Komentar untuk "Pemikiran Ibn Rusyd dalam Filsafat Islam"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top