Dinasti-Dinasti Islam di Asia Kecil (Zangiyah dan Ismailiyah/ Hassasin)

Berbagai dinasti-dinasti Islam pada periode klasik, banyak sekali dan menyebar di berbagai daerah di belahan dunia. Dari mulai Asia ke Afrika hingga ke Eropa. 

Di Eropa terdapat dinasti Umayyah II di Andalusia yang sangat menonjol, di Afrika juga terdapat banyak sekali  dinasti-dinasti. Sedangkan di Asia, khususnya di  Asia kecil terdapat tiga dinasti yang akan kami bahas dalam makalah ini.

Beberapa dinasti tersebut adalah dinasti Artuqiyah, Zangiyah dan Ismailiyah/ Hassasin. 


Dinasti Artuqiyah di dirikan oleh seorang dari keturunan Artuq ibn Eskeb, seorang kepala suku Doger Oghuz. 

Dinasti Zangiyah didirikan oleh Imaduddin Zangi yang berpusat di Mosul. Sedangkan dinasti Ismailiyah/ Hassasin berpussat di Azerbaijan. 

Dinasti ini biasanya di sebut dengan kelompok pembunuh dari bawah tanah. Dinasti ini memang tidak sebesar dinasti Fathimiyyah atau bahkan Abbasiyah di Baghdad. Akan tetapi penting sekali untuk kita pelajari sebagai pengetahuan.

Baca Juga :  

DINASTI ZANGIYAH
Berdirinya dinasti Zangiyah

Dinasti  Zangiyah didirikan oleh Imad al-Din Zangi yaitu putra Aq Sonqur, seorang panglima ghulam Turki pada Malik Syah Seljuk dan gubernur Aleppo dari tahun 479 H/ 1086 M. Ia merupakan seorang yang berkulit hitam. 

Pada tahun 521 H/ 1127 M, sutan Mahmud menunjuk Zangi sebagai gubernur Mosul dan Atabeg,atau wali bagi dua putranya. Kondisi-kondisi yang masih kacau didalam kesultanan Seljuq di barat, dan munculnya kesultanan-kesultanan Atabegh semi merdeka lainnya, memberi jalan bagi tampilnya Zangiyah. 

Ia mengukirkan kebesaran namanya di sejumlah kerajaan kecil, termasuk Aleppo, Harran, dan Mosul, tempat ia kemudian mendirikan dinasti Zangi (1127-1262).

Perkembangan dinasti Zangiyah
Naik tahtanya Imad al-Din Zangi, atabegh bermata  biru dari Mosul (1127-1146), menandai berakhirnya masa kemajuan dan kemegahan Islam. 
Zangi termasuk seorang pelopor dari beberapa orang pahlawan musuh tentara salib yang mencapai puncanya pada sosok Shalah al-Din. Dan meluas sampai periode dinasti Mamluk setengah abad berikutnya. 

Dinasti Zangi merupakan dinasti terbesar yang pernah didirikan oleh Atabeg. Ia merupakan palu pemukul paling keras terhadap kekuatan tentara Salib yang di takdirkan diperangi dan di hancurkan. 

Dinasti ini beribukota atau berpusat di Mosul dan Aleppo.

Ketika Zangi meninggal, wilayah kekuasaannya dibagi diantara pura-putranya, Nuruddin Mahmud mengambil alih daerah taklukkan Zangi, yaitu Suriah, sedangkan Sayfuddin Ghazi I di al Jazirah. 

Kemudian cabang ketiga dari keluarga itu secara terpisah berkuasa di Sinjar selama sekitar lima puluh tahun.

Kemajuan dinasti Zangiyah 
Beberapa kemajuan yang dicapai dinasti Zangiyah, ia melakukan peperangan pertamanya yang ia pimpin, di Edessa, karena kedekatannya dengan Baghdad, serta kekuasaannya atas rute utama antara Mesopotamia dan Mediterania, kota ini telah menjadi benteng luar bagi seluruh bangsa latin di Suriah selama setengah abad. 
Setelah serangan selama empat minggu, Zangi merebutnya pada tahun 1144 M, dari Joscelin II. Negara tentara perang salib yang pertama berdiri dan pertama jatuh ini memang memiliki kekuatan besar, hanya saja tidak dilengkapi dengan pertahanan yang kuat. 

Pengambilalihan kekuasaan atas negeri ini secara tidak langsung telah menghilangkan retaknya  kepercayaan antara umat Islam di Suriah dan di Irak. Di Eropa, peristiwa ini menandai periode baru, yang biasanya disebut Perang Salib kedua (1147-1149).

Bosworth dalam bukunya Dinasti-dinasti Islam juga menyeutkan bahwa Zangi dapat berekspansi kebarat melewati al Jazirah ke Suriah dan ke Utara, ke Kurdistan. 

Pada berbagai kesempatan dia menantang sultan Seljuq dan berselisih dengan amir-amir Turkmen dan Arab lokal. 

Dia juga berperang melawan Bizantium dan Frank dengan berhasil di rebutnya Edessa seperti yang telah di ungkapkan di atas, dan ia menjadi pahlawan dunia Sunni.

Ketika kekuasaan digantikan oleh anaknya  yaitu Nur al Din Mahmud,  ia lebih cakap tinimbang ayahnya, Mahmud menjadi orang kedua setelah ayahnya untuk menghadapi orang Franka dalam waktu yang lebih lama. 

Pada tahun 1154 M, dengan mudah ia merebut Damaskus, tanpa perlawanan sama sekali dari seorang pengganti Tughtigin. 

Secara berangsur-angsur is menyempurnakan penaklukkan wilayah Edessa yang rajanya Joscelin II, pada tahun 1151 membawa para tahanan yang berjalan dirantai.

Mahmud  juga merebut Sebahagian kerajaan Antokia, dan menangkap raja  mudanya Behemond III, pada tahun 1164 M bersama-sama dengan sekutunya yaitu Ramond III dari Tripoli.

Baca Juga :  

Keruntuhan Dinasti Zangiyah 
Kebijaksanaan Nuruddin di Suriah dan Palestina terhadap kaum Frank dan kemunduran Fathimiyah meicinkan jalan bagi karir Shalahuddin Al Ayyubi dan pembentukan bagi pembentukan kerajaan Ayyubiyah. 
Cabang Zangiyah di Suriah kemudian masuk kedalam cabang Mosul, dan lalu dengan kebijaksanaan Ekspansionis mereka di Dyarbakr dan Al Jazirah. Shalahuddin dua kali gagal merebut Mosul pada tahun 578 H/ 1184 M. 

Namun Mas’ud I ibn Mawdud di paksa mencapai sepakat dan mengakui Ayyubiyah sebagai penguaa tertingginya.

Turunnya Zangiyah bersamaan waktunya dengan naiknya Badruddin Lu’lu’, bekas budak Arsylan Syah I, yang sepeninggal penguasa itu menjadi wali raja untuk kerajaan. 

Ketika Zangiyah terkahir, Nashruddin Mahmud wafat, Lu’lu’ menjadi Atabeg Mosul dengan gelar al Malik al Rahim, dan memerintah disana sampai meninggalnya 657 H/ 1259 M, tak lama sebelum Mongol mengambil alih.
Faktor kejayaan
Beberapa hal yang mempengaruhi kejayaan dari dinasti Zangiyah antara lain, dengan berhasilnya merebut kota Edessa melalui pasukan perang yang dimiliki oleh dinasti Zangiyah yang memiliki semangat yang kuat dalm melawan musuh. 
Keberanian yang dimiliki Zangi juga mendorong kejayaan dari dinasti Zangiyah, bahkan ia berani menantang sultan Seljuq.

Dinasti Zangiyah juga berpusat di Mosul yang termasuk strategis untuk melakukan penyerangan-penyerangan dan berekspansi ke barat melewati al Jazirah ke Suriah dan ke utara ke Kurdistan. 

Faktor kejayaan lainnya yaitu adanya pemimpin yang cakap pengganti Zangi, sehingga dapat meneruskan perjuangan Zangi di wilayah-wilayah yang baru dikuasai oleh Zangi.

Faktor Keruntuhan 

Dinasti Zangiyah runtuh di tumbangkan oleh Wazir Badruddin Lu’lu’, bekas budak Asrylan Syah I. Dan kemudian untuk cabang di Damaskus yang bersat  kembali dengan Mosul berhasil di tumbangkan oleh pasukan Shalahuddin al Ayyubi.

ISMAILIYAH / HASSASIN
Berdirinya  
Pada zaman Islam abad pertengahan, kaum Isma’iliyyah ekstrem di pandang dengan rasa takut oleh kaum sunni ortodok. 
Kerena Isma’iliyyah dapat menarik perhatian banyak pikiran dan kepentingan, maka mereka dicurigai terlibat dalam banyak gejolak ketidak puasan sosial dan politik. 

Pendiri kelompok-kelompok Isma’iliyyah di Persia utara dan Suriah adalah seorang yang bernama Hasan-i Shabbah, seorang da’i persia yang bertugas menyebarkan aliran itu di negerinya sendiri.

Sepeninggal Al Muntashir tahun 87/1094, gerakan fatimiyah mengalamin perpecahan doktrinal, kaum Isma’iliyah timur mengakui Nizar, putra sulung dan pilihan khalifah yang sudah meninggal sebagai ahli warisnya, meskipun wazir badrul Jamali berhasil menempatkan Al-Mustali di singasana.

Baca Juga : 

Perkembangan 

Dilakukan penyebaran atau dakwah yang dilakukan di gunung Suriah, di bawah kepemimpinan tangan Akamut dan kaum Isma’iliyyah Suriah memainkan peranan penting dalam perjuangan melawan kaum Frank dan kaum muslimin sunni.

Dan pada tahun pertama abad kesebelas kelompok Isma’iliyyah (assassin) berhasil menancapkan kekuatan yang sangat besar di Suriah dan mendapatkan anugrah dengan berpihaknya penguasa Saljuk di Aleppo, Ridwan ibn Turusy (w, 1113) kepada mereka.
Kemajuan 

Di dalam kemajuan yang di capai diantara Pada tahun 483/1090, Hasan menguasai Kastil Alamut di Gunung Elburz di sebuah daerah dekat Daylamndan Azebayjan, di mana hetorodoksi telah lama berkembang. 

Dari pangkalan inilah diorganisasikan pemberontakan-pemberontakan Isma’iliyah di berbagai wilayah kekaisaran Saljuk raya. 

Pada tahun 1140 mereka dapat mneguasai benteng Mashyad di sebuah bukit dan beberapa benteng lainnya di utara Suriah, termasuk al-Khahf, al-Qadmus dan al-Ulaiqah. Bahkan Syaizan di Orontes pernan pula di kuasai.

Keruntuhan 

Pada abad 13, ekstremisme dan kekarasan para Assassin mulai sedikit melunak, khalifah Abbasiyyah, An-Nashir, mencatat keberhasilan dalam propaganda di dunia Muslim kortemporer, yaitu berupa kembalinya Guru Besar Hasan III ke pangkuan ortodoksi Sunni. 

Dengan terus mengikuti kebijaksanaan pro-khalifah ini, kaum Isma’iliyyah Persia menentang rencana-rencana Imperial khwarabzm-Syah. 

Namun Guru Besar terahir, Khursyah, tiidak dapat menahan orang-orang Mongol Hulagu; pada tahun 654/1256 Alamut tertangkap, dan pada tahun berikutnya Khursyah tampaknya telah dibunuh oleh para penakluk itu. 

Kaum Isma’iliyyah Syiah telah menjadi bagian yang di terima dalam peristiwa politik lokal, menjadi pembayar bajak pada kesatria-kesatria Kristen Hospitaller pada tahun 624/1227. 

Namun keberadaan mereka yang bersinambung kemudian di pandang oleh sultan Baybars sebagai tidak dapat ditoleransi, dan pada tahun 617/1273 kubu terakhir Assassin, Al-khahf, jatuh ke tangan mamluk.
Faktor Kejayaan 

Di lakukannya pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan Isma’iliyyah pada saat terhadap dinasti saljuk, dan juga penyebaran-penyebaran dakwah atas paham Ima’iliyyah yang dilakukan di kawaasan Suriah.
Faktor Keruntuhan

Pada saat Mashyad pada 1260 dikuasai pasukan Mongol, Mamluk Sultan Baybar pada 1272 menghancurkan Hasyasyin Persia. 

Sejak saat itu kelompok Isma’iliyah (Assassin) terpecah-pecah di sepanjang wilayah utara Suriah, Persia, Oman, Zanzibar dan Khususnya India dengan jumlah anggota sekitar seratus lima ribu orang dengan sebutan baru yaitu Khoja atau Maula dan juga terbentuknya sekte-sekte yang tidak sepaham dengan Ima’iliyyah.

Baca Juga : 

REFERENSI
C E, Bosworth. “Dinasti-dinasti Islam”. Bandung: Penerbit Mizan, 1993.
Phillip K Hitti. “History of the Arabs”. Jakarta: PT Serambi Ilmu semesta, 2014.
Labels: SEJARAH ISLAM

Thanks for reading Dinasti-Dinasti Islam di Asia Kecil (Zangiyah dan Ismailiyah/ Hassasin). Please share...!

0 Komentar untuk "Dinasti-Dinasti Islam di Asia Kecil (Zangiyah dan Ismailiyah/ Hassasin)"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top