-->

Keindahan Di Balik "Bid'ah"

Bid’ah dalam Ajaran Islam


Bid’ah adalah istilah yang mungkin tidak asing lagi bagi umat Islam, karena seringkali disebutkan dalam ceramah-ceramah keagamaan yang cenderung puritan dan kemudian berujung pada pelarangan berbuat bid’ah.
Bid’ah berasal dari bahasa Arab, yang berarti perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh dari nabi, termasuk menambah dan mengurangi sesuatu yang berkaitan dengan ibadah. 

Dalam Islam banyak sekali terjadi bid’ah, termasuk didalamnya ritual-ritual yang merupakan hasil akulturasi dari budaya sebelumnya yang sudah berkembang sebelum Islam masuk.
Di Indonesia pun demikian, banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan ritual kuno yang kemudian diadopsi dan diganti isinya agar tidak bertentangan dengan syariat Islam yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh umat Islam di Indonesia. 

Salah satu contohnya adalah tahlilan.

Tahlilan dan Unsur Bid’ahnya


Tahlilan mungkin sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. 

Merupakan tradisi mendoakan orang yang sudah meniggal di rumah kediaman ahlul bait bersama dengan beberapa orang-orang atau tetangga sekitar. 

Tradisi semacam itu sebenarnya adalah sebagai perwujudan dari bentuk kepedulian dari masyarakat setempat kepada keluarga yang ditinggalkan.
Tahlilan, dalam syariat Islam banyak ditentang oleh para kelompok yang menamakan dirinya penyempurna dan pemurni tauhid

Banyak dari kalangan mereka yang berargumen bahwa segala macam yang diperbuat oleh manusia yang tidak pernah dicontohkan oleh nabi adalah bid’ah. 

Sebenarnya bid’ah terbagi menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah (baik) bid’ah dlolalah (buruk), tapi dalam tulisan ini saya tidak akan mengklasifikasikan tahlilan sebagai bid’ah yang baik atau buruk.


Dalam tahlilan, bid’ah yang terkandung didalamnya adalah sebuah ritualnya atau kulitnya yang memuat tradisi didalamnya. 

Artinya apabila kita telisik lebih dalam, apa yang terkandung dalam tahlilan sebagian besar bukan merupakan bid’ah, karena dalam substansi tahlilan terdapat beberapa hal, yaitu, berkumpul (silaturrahmi), membaca Alqur’an, mendoakan orang yang sudah meninggal, dan sedekah.
 
Apabila kita cermati, dalam unsur-unsur tahlilan di atas, mana yang merupakan sebuah bid’ah?, saya rasa tidak ada, karena hampir dari keseluruhan unsur di atas telah dicontohkan oleh nabi. 

Dan nabi cenderung menganjurkan. Nabi sendiri sering sekali berkumpul dengan para sahabatnya berbicara masalah ibadah, atau hanya sekedar bercanda gurau, 

nabi juga sangat menganjurkan kita untuk membaca Alqur’an, mendoakan orang yang sudah meninggal pun dicontohkan oleh nabi, dan sedekah juga demikian.
 
Akan tetapi bagi sebagian besar orang yang menganggap tahlilan adalah bid’ah, karena memang yang dilihat hanyalah unsur luarnya saja, atau istilah yang digunakan yaitu “Tahlilan”. 

Tahlil sebenarnya berasal dari bahasa Arab juga, akan tetapi terdapat imbuhan an dibelakangnya yang kemudian identik dengan istilah lokal (Indonesia). 

Mungkin berbeda urusannya apabila nama tahlilan tersebut diganti dengan istilah Halaqoh atau apapun yang menggunakan istilah Arab.

Nikmatnya Tahlilan


Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa salah satu unsur dalam tahlilan adalah sedekah. 

Sebenarnya ini bukan merupakan sebuah keharusan bagi keluarga yang menyelenggarakan tahlilan, akan tetapi sudah menjadi sebuah kebiasaan untuk dilakukan, sebagai ungkapan rasa terimakasih terhadap orang yang telah datang.
Sedekah dalam tahlilan bukanlah berupa uang atau barang, akan tetapi makanan, 

hal yang lazim sekali terjadi di setiap budaya lokal, adalah dengan menyediakan kepada seorang yang datang dengan makanan sebagai ungkapan rasa terimakasih.
Hal itu merupakan sebuah kenikmatan tersendiri bagi orang yang sangat membutuhkan makanan. 

Kondisi semacam itu banyak terjadi kepada anak-anak pesantren atau para musafir yang sedang perjalanan jauh, atau bahkan mahasiswa yang sedang kost di luar kota.
Dengan adanya tahlilan dan disediakannya makanan, maka ini merupakan surga tersendiri bagi beberapa orang diatas. 

Pasalnya, selain senang rasanya hati karena berkumpul dengan tetangga dan orang banyak, mereka juga bisa menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh tuan rumah. 

Tidaklah harapan yang besar bagi mereka menyantap makanan yang mewah. Akan tetapi kebersamaan ketika menyantap makananlah yang menjadi sebuah kenikmatan tersendiri bagi mereka.
Selain itu, tahlilan juga membuat orang-orang yang sebelumnya kurang suka bergaul menjadi mengenal satu sama lain. 

karena merupakan ajang berkumpul yang bermanfaat bagi orang dan kelompok tertentu untuk lebih merekatkan persaudaraan dan silaturrahminya.
Maka dalam tahlilan setidaknya ada dua unsur yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, yaitu unsur agama dan unsur sosial. 

Jadi tradisi yang dikatakan orang bid’ah ini sebenarnya mengandung makna dan manfaat yang sangat besar, 

karena bukan hanya akhirat saja yang menjadi fokus tujuan dari adanya tahlilan, akan tetapi dunia juga menjadi orientasi mereka.
Maka dari itu, patutlah kita untuk belajar mengahargai dan menerima hidup dalam sebuah perbedaan. 

Karena Tuhan menciptakan manusia dari berbagai jenis yang berbeda dan terdiri dari suku-suku dan bangsa yang berbeda pula, dengan tujuan untuk saling menghargai perbedaan. 
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS, Al Hujurat : 13)

Labels: OPINI

Thanks for reading Keindahan Di Balik "Bid'ah". Please share...!

0 Komentar untuk "Keindahan Di Balik "Bid'ah""

Tulis komentarmu di sini

Back To Top