-->

Moderat yang tak Moderat

Pilihan menjadi Moderat
 
Moderat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “Selalu menghindar dari perilaku atau pengungkapan yang ekstrim, Berkecenderungan kearah dimensi atau jalan tengah”. Moderat adalah lawan kata dari ekstrim. Moderat saat ini sering disebut dengan ideologi kanan, sedangkan lawan kata moderat yaitu ekstrim sering disebut dengan ideologi kiri.
Indonesia adalah negara yang memiliki berbagai macam bentuk organisasi yang menyebar diseluruh daerah bahkan plosok-plosok. Baik organisasi yang paling radikal maupun yang paling moderat. 

Tapi dalam tulisan ini hanya akan membahas mengenai organisasi Islam yang moderat. Nahdlatul Ulama atau yang sering disingkat dengan NU, adalah organisasi kemasyarakatan berbasis agama yang paling benyak memberikan pengaruh dalam penyebaran ideologi kanan.
Pilihan NU untuk menjadi moderat adalah karena memang orientasi pemikirannya tertuju pada bentuk nasionalisme kepada negara dengan tidak melupakan tuntunan syariat agama. Sebenarnya tak hanya NU yang merupakan cerminan organisasi moderat di Indonesia. 

NU bersama Muhammadiyah adalah kedua organisasi yang memiliki peranan penting dalam perjuangan pembebasan negara Indonesia dari tangan imperialis. Maka pilihan untuk menjadi moderat dari kedua organisasi diatas adalah semata-mata untuk melindungi keutuhan negara dari tangan pemecah belah.
Karena kiprah yang begitu panjang, NU dan Muhammadiyah memiliki pemahaman yang cukup tinggi dalam berkehidupan di Indonesia. Kesadaran akan kemajemukan penduduk Indonesia menjadi alasan mereka untuk saling menghargai dan tidak menuntut hal-hal yang berbau rasis yang berakibat pada kakacauan negara. 

Dan prinsip membela negara adalah salah satu aspek pendorong mereka untuk selalu menegakkan perdamaian. Seperti semboyan mereka yaitu Hubbul wathon minal iman “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”
Jawa, Sunda, Bugis, Madura, Minang, Melayu, Batak, Dayak, Papua, hanyalah sebagian kecil dari suku-suku yang ada di Indonesia. Terdapat ratusan suku dan ribuan bahasa serta berbagai macam agama yang dimiliki oleh Indonesia, sehingga apabila tidak ada sebuah organisasi yang memperjuangkan ide berdiri diatas perbedaan maka apa jadinya negeri ini dengan berbagai macam kekayaannya. Hanyalah menjadi sarang teroris yang mengatasnamakan jihad.

 

NU dan Orientasi Moderatnya

Nahdlatul Ulama, seperti telah disinggung di atas memilih untuk menjadi moderat karena memiliki prinsip dalam membela negara (yang telah diperjuangkan selama berabad-abad lamanya) dari serangan para pemecah belah keutuhan bangsa dan negara. Maka dari itu NU sangat mengedepankan prinsip saling menghargai terhadap sesama.
Agama lain (non-Muslim) adalah menjadi sasaran kemoderatannya. NU sangat menaruh perhatian kepada non-Muslim dan memilih untuk hidup berdampingan serta saling menjaga perdamaian. Karena itu sesuai dengan prinsip mereka. Misalnya saja pada perayaan Natal 2018, banyak dari anggota GP Anshor yang ikut mengamankan perayaan Natal di Gereja di berbaga daerah.
Akan tetapi muncul permasalahan ketika NU sebagai organisasi Islam yang moderat memilih untuk tidak bersikap toleran sama sekali terhadap organisasi Islam lain yang cenderung ekstrim. Maka muncul spekulasi bahwa kemoderatan NU hanya sebatas untuk mencari nama saja terhadap pemerintah.
Pasalnya NU merupakan organisasi yang mendukung secara penuh pemerintah dalam menerbitkan aturan yang mengatur organisasi Islam yang bertentangan dengan Pancasila, dan cenderung ekstrim. NU banyak melakukan kritik terhadap organisasi Islam yang tidak toleran. Kritik-kritik pedas NU tersebut seringkali banyak menjadi perdebatan bagi mereka para kelompok Islamis yang memiliki pandangan yang bertolak belakangan dengan NU.
HTI, dan FPI, dll adalah contoh dari beberapa organisasi yang tidak berorientasi pada faham toleransi dan pluralisme. NU menolak keras pandangan dan ideologi mereka. NU sama sekali tidak menunjukkan toleransinya kepada organisasi yang tidak toleran. Maka hal ini menjadi alasan untuk mengatakan bahwa NU telah mencederai kemoderatannya sendiri.

Alasan tak Moderat kepada Sesama

Persoalan diatas menjadi rumit apabila dijadikan sebagai bahan untuk mencaci maki dan mengkritik habis-habisan orientasi kemoderatan NU. Akan tetapi persoalan tersebut bisa disamakan dengan kasus, “Demokrasi Indonesia sudah rusak karena tidak memberikan tempat kepada kaum pejuang khilafah”. 

Melihat kasus demokrasi Indonesia yang menghapuskan HTI sebenarnya adalah untuk melindungi demokrasi itu sendiri. Bukan berarti jika berdemokrasi maka harus menerima apapun ideologi yang nantinya akan merusak keutuhan demokrasi. 

Menghapuskan kelompok khilafah adalah langkah untuk melindungi demokrasi.
Sama halnya dengan NU, saya mengibaratkan bahwa sesama Islam adalah saudara satu rumah, dan non-Islam adalah tetangga. Prinsip bermasyarakat adalah hidup damai dan berdampingan. 

Ketika saudara kita (sesama Muslim) merusak perdamaian dan memilih untuk tidak menghargai tetangga, maka yang harus dilakukan adalah menegur dengan cara yang semestinya sebagai saudara. Karena tetangga telah terganggu keamanannya.
Maka tidak heran apabila NU sangat menolak keras ideologi Islam yang ekstrim. Mereka sangat menganggu kehidupan berbangsa dan keutuhan negara. Maka sebagai pejuang toleransi sudah sepantasnya NU menginginkan mereka untuk menjadi moderat tanpa melalui jalur moderat. Karena paham tidak moderat mereka sungguh mengkhawatirkan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Labels: OPINI

Thanks for reading Moderat yang tak Moderat. Please share...!

0 Komentar untuk "Moderat yang tak Moderat"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top