Perjuangan KH. Ahmad Rifa'i Kalisalak Batang

Masuknya Belanda ke wilayah-wilayah ke Indonesia dengan tujuan untuk melakukan penjajahan terhadap tanah Nusantara dan melakukan tindakan mendiskriminasi terhadap masyarakat setempat membuat rakyat pribumi semakin terdesak dan seiring dengan berjalannya waktu membuat gerakan-gerakan perlawanan terhadap pemerintah Belanda di Nusantara.

Gerakan pemikiran dan perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat pribumi Nusantara umumnya dilakukan oleh para kaum ulama, haji dan kiai yang memiliki jiwa nasionalisme kebangsaan dan terkesan tidak ingin adanya campur tangan Belanda (dalam hal ini disebut kafir) dalam urusan pemerintahan di Nusantara ini.

Maka banyak diantara ulama, haji dan kiai pribumi yang memiliki otoritas untuk menggerakkan masa nya dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda seperti yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro dll. 

Berbeda dengan KH. Ahmad Rifa’i yang mengekspresikan perlawannanya terhadap Belanda bukan dengan cara peperangan melainkan dengan cara membangun sebuah faham keagamaan yang cenderung revivalis dan berseberangan dengan ulama-ulama lain di kala itu.

Sebab KH. Ahmad Rifa’i memandang bahwa pemerintah Belanda adalah kafir dan orang-orang yang memperoleh jabatan di pemerintahan Belanda dianggap sebagai budaknya orang kafir. 

Dalam artikel ini kami akan membahas tentang pemikiran KH. Ahmad Rifa’i dan gerakan pemikiran yang dibangunnya.

Baca Juga : Sejarah Kesultanan Aceh Darussalam

 
Gambar KH Ahmad Rifa'i

BIOGRAFI KH. AHMAD RIFA’I

KH.Ahmad Rifa’i dilahirkan pada tahun 1786, di Desa Tempuran yang terletak di sebelah selatan masjid Kendal. Ayahnya bernama Muhammad Marhum. 

Sejak masih kecil, Kiai Rifa’i sudah ditinggalkan oleh ayahnya sehingga ia diasuh oleh kakeknya KH. Asy’ari yang merupakan seorang ulama terkena di daerah Kaliwungu. 

Dengan demikian masa remajanya ia berada pada lingkungan yang agamis, mengingat Kaliwungu adalah wilayah yang sejak dahulu terkenal sebagai pusat perkembangan agama Islam di wilayah Kendal dan sekitarnya.

Pada tahun 1833, ia berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji melalui pelabuhan semarang dan kemudian menetap di Makkah selama delapan tahun. 

Pada saat itu Makkah memiliki arti tersendiri sebagai kota yang menghubungkan jaringan ulama dari berbagai kawasan yang telah berlangsung sejak abad-abad sebelumnya. 

Hubungan diantara ulama-ulama terjalin dalam upaya pencarian mereka terhadap ilmu, melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti masjid, madrasah dan ribath, yang mengambil bentuk akademis diantara guru dengan murid (hubungan vertikal).

Salah satu diantara guru Kiai Rifa’i adalah Isa Al Barawi, merupakan bagian dari mata rantai ulama Syafi’iyah. Sepulang dari Makkah ia menetap di Kendal. Akan tetapi setelah kawin dengan janda dari Demang Kalisalak, ia pindah ke wilayah itu dan mendirikan pesantren di sana. 

Awalnya pesantren ini hanya dikunjungi oleh anak-anak, tetapi kemudian banyak pula orang dewasa yang datang dari berbagai kota, maka mereka inilah yang dianggap sebagai murid generasi pertama yang berjasa menyebarkan ajaran KH. Ahmad Rifa’i ke luar Batang.

Bagi Belanda, sosok Kiai Rifa’i adalah ulama yang dianggap mengancam stabiltas politik pemerintahan karena dalam pengajarannya sering me-nyinggung keberadaan pemerintah Belanda di Indonesia yang dianggapnya kafir, fasik, dan dzalim. 

Selain menentang pemerintahan Belanda, ia juga menentang pegawai pribumi yang mendapatkan jabatan dibawah pemerintahan Belanda (penghulu, Demang, dan Bupati), dianggapnya telah tersesat karena mengikut kemauan raja kafir.

Kepindahannya dari Kendal ke Desa Kalisalak Kabupaten Batang setelah pulang haji tahun 1848 adalah karena tindakannya yang cenderung mengancam stabilitas politik Belanda. 

Dengan berpindahnya Kiai Rifa’i ke Kalisalak (merupakan desa yang terpencil dan jauh dari percaturan perkotaan), maka dakwah Kiai Rifa’i menjadi lebih subur karena jauh dari pengawasan pemerintah Belanda. 

Sehingga ia bisa lebih leluasa menentang pemerintah dan menyerangnya melalui tulisan-tulisan yang dikarangnya maupun surat yang dikirimnya secara langsung kepada pejabat pemerintah Belanda. Pada tahun 1859, KH. Ahmad Rifa’i diasingkan ke Ambon dan meningggal di pengasingan pada tahun 1876 di usia 73 tahun.
 
Papan nama makam KH. Ahmad Rifai di Tindano

 

GERAKAN RIFA’IYAH

Gerakan Rifa’iyah merupakan gerakan pembaharuan dan pemurnian Islam yang dipimpin oleh KH. Ahmad Rifa’i, ia mendirikan sebuah pesantren di desa Kalisalak Batang Pekalongan. 

Kegiatan belajar di pesantren ini lambat laun menjadi suatu bentuk kelompok keagamaan yang mengamalkan ajaran-ajaran KH. Ahmad Rifa’i yang ditulis dalam kitab-kitab Tarajumah.

Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa pesantren KH. Ahmad Rifa’i telah mendapatkan murid dari berbagai daerah di Jawa, maka mereka inilah yang kemudian menjadi agen dalam menyebarkan paham Rifa’iyah di berbagai daerah (Pati, Batang, Kendal, Jawa Barat, hingga Jakarta).

Secara sosiologis, munculnya kelompok penganut Kiai Rifa’i merupakan bentuk akumulasi dan isolasi kultural dari pemerintah dan seluruh jajarannya termasuk ulama. Gerakan Rifa’iyah menganjurkan untuk mengikuti ulama yang benar. 

Selain untuk mengikatkan kesetiaan antara guru dan murid, istilah ‘alim-‘adil dipakai sebagai batas pembeda antara ulama yang dapat dijadikan sebagai panutan dan yang harus ditolak. Penyebutan ini sering dilawankan dengan ‘alim-fasiq.

Sebagai figur yang terisolasi dari lingkungan pejabat pemerintah, Kiai Rifa’i bukan saja menentang pemerintah, tetapi juga para pegawai pemerintah. 

Karenanya, ia menolak untuk mengakui otoritas keagamaan mereka dan mendesak muridnya agar berpikiran serupa dengannya, ia juga mengajarkan ideologi “Perang sabil”, sehingga penguaa-penguasa lokal menganggapnya sebagai bahaya yang dapat mengancam ketertiban umum. 

Rasa sentimen itu diaktualisasikan dengan sikap-sikap tidak menaati peraturan pemerintah, dan tidak takut kepada para priyayi dan pemimpin daerahnya

KH. Ahmad Rifa’i memiliki pemikiran tentang sholat jum’at, yang ia menganggap tidak sah apabila melakukan sholat jum’at di masjid di luar masjid Rifa’iyah. Karena adanya perbedaan pendapat tentang jumlah orang dalam pelaksanaan sholat jum’at. 

Kiai Rifa’i melakukan penekanan terhadap kualitas bukan kuantitas. Sholat jum’at yag dilakukan dengan 40 orang masih belum sah apabila ilmu mereka tidak sempurna, dan akan sah meskipun dilakukan dengan empat orang apabila adanya kesempurnaan ilmu yang dimiliki oleh jamaahnya. Ia menyatakan di dalam kitabnya, 

Tinemu ora sah Jum’at patang puluh anane 
Sabab taqsir tan pepek ilmune
Pertela sah sembahyang Jum’at wong papat
Sebab sekeh ilmune wus dihimmah 

Artinya :

Ternyata tidak sah sholat jum’at dengan bilangan empat puluh orang adanya
Sebab kurang sempurna ilmunya
Jelaslah sah sembahyang Jum’at empat orang
Sebab semua ilmunya sudah diperhatikan.


Selain masalah sholat jum’at, Kiai Rifa’i juga memiliki perbedaan dalam pemikirannya tentang pernikahan. Ia menganggap tidak bisa mengesahkan pernikahan yang dilakukan oleh penghulu, sebab pihak-pihak yang terlibat dalam pernikahan seperti wali dan saksi nikah dianggap tidak memenuhi syarat. 

Selain masalah itu, Kiai Rifa’i juga tidak setuju tentang adanya penentuan biaya dalam pernikahan. Karena Kiai Rifa’i berpandangan bahwa pejabat pemerintah dalam urusan pernikahan tidak diperbolehkan menentukan upah yang perlu dibayar (kepada pejabat) ketika hendak menikah. 

Akan tetapi pejabat boleh menerima ujrah dari orang yang dinikahkan, sebab menurutnya upah berbeda dengan ujrah. Selain tentang sholat jum’at dan pernikahan, Kiai Rifa’i juga memiliki pendangan yang berbeda tentang qodlo’sholat. Yaitu pemikirannya tentang qodlo mubdarah.   

Dengan pandangan-pandangan Kiai Rifa’i yang cenderung berbeda itu maka penguasa lokal menganggap Kiai Rifa’i sebagai ancaman yang dapat mengganggu ketenteraman wilayah Pekalongan. 

Maka untuk mengendalikan ketenteraman di wilayahnya, bupati Batang melaporkan gerakan ini ke Residen pekalongan. Residen selanjutnya melaporkannya kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Pada 6 Mei 1859, Kiai Rifa’i dipanggil ke Residen Pekalongan. 

Tuduhan yang dialamatkan kepada Kiai Rifa’i adalah mengadakan perpecahan antara penganut agama Islam di wilayah itu dan tidak taat kepada kepala yang ditempatkan diatas rakyat pribumi. 

Setelah mendapatkan alasan yang kuat dari hasil interogasi dan surat dari Residen Pekalongan, Gubernur Jenderal Pahud menjatuhkan keputusan yang isinya tentang pengasingan Kiai Rifa’i. Dan kemudian Kiai Rifa’i diasingkan ke Ambon pada 1859. Dan meninggal di sana pada 1876 di usia 73 tahun.

Dari penjabaran diatas dapat diambil kesimpulan dari gerakan Rifa’iyah. Yaitu  

pertama, adanya unsur pemurnian Islam yang dibawa oleh gerakan tersebut merupakan salah satu gerakan reformasi pada abad ke-19.  

Kedua, gerakan ini mengandung unsur revivalis, yaitu gerakan yang ingin mengembalikan kesadaran hidup beragama,yang dianggap semakin pudar di dalam masyarakat. Karena dampak dari westernisasi dan kolonisasi pada abad ke-19. 

Ketiga, gerakan Rifa’iyah dalam ajaran dan aktivitasnya menunjukkan adanya unsur protes. 

Baik protes terhadap pemerintah kolonial yang dianggap sebagai pemerintahan yang kafir, terhadap kaum birokrat tradisional dianggap pendukung penguasa kolonial, dan terhadap lingkungan sosial kulturalnya karena Rifa’iyah menganggap bahwa pengamalan Islam dalam masyarakat dicampur aduk dengan kepercayaan lokal dan pra-Islam.
 

KONTROVERSI PEMIKIRAN DAN GERAKAN KH. AHMAD RIFA’I 

Serat cebolek merupakan sebuah buku yang ditulis pada tahun 1892. Naskahnya dimiliki oleh Kanjeng Raden Adipati Suryakusuma, pensiunan bupati Semarang, dan kemudian direvisi dan ditulis kembali oleh Raden Panji Jayasubrata yang kemudian menjadi camat Magetan di Jawa Timur. 

Buku tersebut terdiri atas 31 syair dalam gaya macapat, tujuh sair pertama memuat kisah Haji Ahmad Rifa’i, dan 24 lainnya untuk kisah Haji Mutamakim.

Kisah KH. Ahmad Rifa’i juga ditulis di dalam Serat Cebolek di syair pertama sampai syair ke tujuh. Serat Cebolek menggabarkan dengan rinci tentang prilaku Kiai Rifa’i dan para santrinya, dia yang mengklaim menjadi khalifah kanjeng nabi, merupakan satu-satunya orang yang alim dan adil. 

Buku itu mengutip bahwa haji Pinang (penghulu Batang), mengatakan bahwa penjahat Rifa’i adalah “setan dari Kalisalak, seorang Iblis yang kelihatan” yang “rambutnya dipotong dengan gaya kucir (cina)”.

Kiai Rifa’i menyebutkan bahwa sholat jum’at yang dilakukan di masjid Pekalongan adalah haram, ketika ditanyakan kitab fiqh manakah yang mendukung pendapatnya itu, dia berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa dia telah menerjemahkan beberapa tahun lalu, dia tidak lagi menggunakan sumber aslinya sehingga lupa akan judulnya. 

Ketika ditanya kemana buku itu sekarang, ia menjawabnya tertinggal dirumah. Masalah yang nyata yang berkenaan dengan sembahyang jum’at adalah bahwa imam dan khatib digaji oleh pemerintah kolonial, yaitu oleh orang kafir. Jawaban itu sangat menggelikan sehingga semua hadirin tertawa terpingkal-pingkal.

Rupanya sang penulis cerita memang hendak memberi kesan tertentu dalam rangka merendahkan martabat haji Rifa’i. Penulis mengutip haji Pinang mengatakan bahwa Kiai Rifa’i adalah angkara murka dan delap, egois, takabur, tak tahu malu. 

Pada perdebatan kedua, masalah yang diperdebatkan tetap sama yaitu sembahyang jum’at, hukum perkawinan dan rukun Islam. Kembali Kiai Rifa’i kalah menghadapi haji Pinang yang memang ahli dalam berbdebat. Kiai Rifa’i selalu merujuk kepada kitab-kitab yang dikatakannya ketinggalan di rumahnya, yang judulnya tak diingatnya lagi. 

Haji Rifa’i benar-benar kelihatan putus asa di hadapan haji Pinang yang tampak gagah dan berwibawa, bahkan sekali-kali tampak angker ketika mengusap-usap kumisnya. Pada bagian ini penulis meninggalkannya dan terus memuji kemenangan haji Pinang, pada bab penutup dia juga memuji pejabat-pejabat kolonial di Pekalongan, Residen dan Sekretarisnya.

Baca Juga : 



Download Makalah

 
REFERENSI

Azra, Azyumardi. 1994. “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII”. Bandung: Penerbit Mizan.
Djamil, Abdul. 2001. “Perlawanan Kiai Desa: Pemikiran dan Gerakan Islam KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak”. Yogyakarta: LkiS.
Huda, Nor. 2013. “Islam Nusantara: Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia”. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
Kuntowijoyo. 1994. “Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi”. Bandung: Penerbit Mizan.
Labels: SEJARAH INDONESIA

Thanks for reading Perjuangan KH. Ahmad Rifa'i Kalisalak Batang. Please share...!

0 Komentar untuk "Perjuangan KH. Ahmad Rifa'i Kalisalak Batang"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top