-->

Perpecahan Politik Umat Islam Pasca Rasulullah

Politik umat Islam pada masa pemerintahan Khulafa Al Rasyidun adalah sistem politik yang demokrasi. Di mulai dari Abu bakar, Umar, Utsman, Ali. 

Tetapi setelah masa Khulafa al Rasyidun atau pada pemerintahan Bani Umayyah sistem politik demokrasi berubah ke sistem politik Monarki. 

Banyak peristiwa sejarah yang melatar belakangi berubahnya sistem demikian itu. 

Di mulai dari pemecatan yang dilakukan oleh Ali terhadap gubernur yang di angkat Ustman

Ali menganggap bahwa gubernur yang di angkat Utsman di dasari karena adanya ikatan kekerabatan. 

Mughirah bin Syu’bah meyatakan bahwa muslihat demikian terlalu tergopoh-gopoh dan besar bahayanya di kemudian hari. 

Dan menurut Mughirah bin Syu’bah dan Ibn Abbas, kalau telah di terima lebih dahulu bai’at dari negeri-negeri itu, tidaklah akan terjadi huru-hara, sebab wali-wali itu lebih dahulu telah terikat oleh sumpahnya sendiri. 

Kalau sebelum dia mengakui khalifah yang baru dengan bai’at, dia di ma’zulkan saja, tentu dia merasa berhak membantahnya.

Kemudian setelah wali Ali yang menggantikan pejabat yang di angkat oleh Utsman itu di kirim. 

Ali menulis surat kepada Mu’awiyah yang isinya “Amma ba’du, tentu telah sampai kepadamu kabar berita tentang bencana yang menimpa Utsman dan kesepakatan orang mengangkat saya. 

Sebab itu saya minta supaya engkau masuk di dalam perdamaian, atau nyatakan perang dengan terus terang”. Mu’awiyah menjawab surat itu hanya dengan kalimat “Bismillahirrahmanirrahim”.

Ali menyiapkan pasukan ke Syam untuk menyerang Mu’awiyah, seketika bala tentara di siapkan akan berangkat ke Syam, tiba-tiba sampailah kabar yang lebih ngeri. 

Yaitu Aisyah, Zubair dan Thahah, bermaksud pula hendak melawan Ali. 

Kemudian terjadilah perang Jamal (unta) di Bashrah, di namakan perang unta karena pada peperangan itu Aisyah menaiki seekor unta. 

Dan perang itu di menangkan oleh pihak Ali. 

Setelah perang jamal Ali bersama pasukannya menuju ke Kuffah di utusnya Jarir Abdullah Al Bajali  untuk menyeru Mu’awiyah supaya membai’at Ali. 

Tetapi Mu’awiyah menolak sebelum darah Utsman di selesaikan. 

Dan kalau tidak selesai, bukan bai’at yang akan di berikan, tetapi perang. 

Perang itu di namakan perang Siffin yang akhiri dengan adanya tahkim dan di menangkan oleh Mu’awiyah dengan cara yang licik oleh wakilnya Amr bin Ash. 

Dengan demikian Ali di turunkan dari jabatannya sebagai Khalifah dan Mu’awiyah memproklamirkan dirinya sebagai khalifah menggantikan Ali.  

Baca Juga : 
Labels: SEJARAH ISLAM

Thanks for reading Perpecahan Politik Umat Islam Pasca Rasulullah. Please share...!

0 Komentar untuk "Perpecahan Politik Umat Islam Pasca Rasulullah"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top