Sejarah Dinasti Zangiyah

Dinasti  Zangiyah didirikan oleh Imad al-Din Zangi yaitu putra Aq Sonqur, seorang panglima ghulam Turki pada Malik Syah Seljuk dan gubernur Aleppo dari tahun 479 H/ 1086 M. 

Ia merupakan seorang yang berkulit hitam. Pada tahun 521 H/ 1127 M, sutan Mahmud menunjuk Zangi sebagai gubernur Mosul dan Atabeg, atau wali bagi dua putranya. 

Kondisi-kondisi yang masih kacau didalam kesultanan Seljuq di barat, dan munculnya kesultanan-kesultanan Atabegh semi merdeka lainnya, memberi jalan bagi tampilnya Dinasti Zangiyah. 

Ia mengukirkan kebesaran namanya di sejumlah kerajaan kecil, termasuk Aleppo, Harran, dan Mosul, tempat ia kemudian mendirikan dinasti Zangi (1127-1262).

Naik tahtanya Imad al-Din Zangi, atabegh bermata  biru dari Mosul (1127-1146), menandai berakhirnya masa kemajuan dan kemegahan Islam. 

Zangi termasuk seorang pelopor dari beberapa orang pahlawan musuh tentara salib yang mencapai puncanya pada sosok Shalah al-Din. 

Dan meluas sampai periode dinasti Mamluk setengah abad berikutnya. 

Dinasti Zangiyah merupakan dinasti terbesar yang pernah didirikan oleh Atabeg. 

Ia merupakan palu pemukul paling keras terhadap kekuatan tentara Salib yang di takdirkan diperangi dan di hancurkan. 

Dinasti ini beribukota atau berpusat di Mosul dan Aleppo.

 
Imad al-Din Zangi
Ketika Zangi meninggal, wilayah kekuasaannya dibagi diantara pura-putranya, Nuruddin Mahmud mengambil alih daerah taklukkan Zangi (Sultan pertama Dinasti Zangiyah tersebut), yaitu Suriah, sedangkan Sayfuddin Ghazi I di al Jazirah. 

Kemudian cabang ketiga dari keluarga itu secara terpisah berkuasa di Sinjar selama sekitar lima puluh tahun

Beberapa kemajuan yang dicapai dinasti Zangiyah, ia melakukan peperangan pertamanya yang ia pimpin, di Edessa, karena kedekatannya dengan Baghdad, 

serta kekuasaannya atas rute utama antara Mesopotamia dan Mediterania, kota ini telah menjadi benteng luar bagi seluruh bangsa latin di Suriah selama setengah abad. 

Setelah serangan selama empat minggu, Zangi merebutnya pada tahun 1144 M, dari Joscelin II. 

Negara tentara perang salib yang pertama berdiri dan pertama jatuh ini memang memiliki kekuatan besar, hanya saja tidak dilengkapi dengan pertahanan yang kuat. 

Pengambilalihan kekuasaan atas negeri ini secara tidak langsung telah menghilangkan retaknya  kepercayaan antara umat Islam di Suriah dan di Irak. 

Di Eropa, peristiwa ini menandai periode baru, yang biasanya disebut Perang Salib kedua (1147-1149).


Bosworth dalam bukunya Dinasti-dinasti Islam juga menyebutkan bahwa Zangi dapat berekspansi ke barat melewati al Jazirah ke Suriah dan ke Utara, ke Kurdistan. 

Pada berbagai kesempatan dia menantang sultan Seljuq dan berselisih dengan amir-amir Turkmen dan Arab lokal. 

Dia juga berperang melawan Bizantium dan Frank dengan berhasil direbutnya Edessa seperti yang telah di ungkapkan di atas, dan ia menjadi pahlawan dunia Sunni.

Ketika kekuasaan digantikan oleh anaknya  yaitu Nur al Din Mahmud,  ia lebih cakap tinimbang ayahnya, Mahmud menjadi orang kedua setelah ayahnya untuk menghadapi orang Franka dalam waktu yang lebih lama. 

Pada tahun 1154 M, dengan mudah ia merebut Damaskus, tanpa perlawanan sama sekali dari seorang pengganti Tughtigin. 

Secara berangsur-angsur is menyempurnakan penaklukkan wilayah Edessa yang rajanya Joscelin II, pada tahun 1151 membawa para tahanan yang berjalan dirantai.

Mahmud  juga merebut Sebahagian kerajaan Antokia, dan menangkap raja mudanya Behemond III, 

pada tahun 1164 M bersama-sama dengan sekutunya yaitu Ramond III dari Tripoli.


Kebijaksanaan Nuruddin di Suriah dan Palestina terhadap kaum Frank dan kemunduran Fathimiyah meicinkan jalan bagi karir Shalahuddin Al Ayyubi dan pembentukan bagi pembentukan kerajaan Ayyubiyah. 

Cabang Zangiyah di Suriah kemudian masuk kedalam cabang Mosul, dan lalu dengan kebijaksanaan Ekspansionis mereka di Dyarbakr dan Al Jazirah. 

Shalahuddin dua kali gagal merebut Mosul pada tahun 578 H/ 1184 M. Namun Mas’ud I ibn Mawdud di paksa mencapai sepakat dan mengakui Ayyubiyah sebagai penguaa tertingginya. 

Turunnya Zangiyah bersamaan waktunya dengan naiknya Badruddin Lu’lu’, bekas budak Arsylan Syah I, yang sepeninggal penguasa itu menjadi wali raja untuk kerajaan. 

Ketika Zangiyah terkahir, Nashruddin Mahmud wafat, Lu’lu’ menjadi Atabeg Mosul dengan gelar al Malik al Rahim, dan memerintah disana sampai meninggalnya 657 H/ 1259 M, tak lama sebelum Mongol mengambil alih.

Beberapa hal yang mempengaruhi kejayaan dari dinasti Zangiyah antara lain, dengan berhasilnya merebut kota Edessa melalui pasukan perang yang dimiliki oleh dinasti Zangiyah yang memiliki semangat yang kuat dalm melawan musuh. 

Keberanian yang dimiliki Zangi juga mendorong kejayaan dari dinasti Zangiyah, bahkan ia berani menantang sultan Seljuq.

Dinasti Zangiyah juga berpusat di Mosul yang termasuk strategis untuk melakukan penyerangan-penyerangan dan berekspansi ke barat melewati al Jazirah ke Suriah dan ke utara ke Kurdistan. 

Faktor kejayaan lainnya yaitu adanya pemimpin yang cakap pengganti Zangi, 

sehingga dapat meneruskan perjuangan Zangi di wilayah-wilayah yang baru dikuasai oleh Zangi.
Dinasti Zangiyah runtuh di tumbangkan oleh Wazir Badruddin Lu’lu’, bekas budak Asrylan Syah I. 

Dan kemudian untuk cabang di Damaskus yang bersat  kembali dengan Mosul berhasil di tumbangkan oleh pasukan Shalahuddin al Ayyubi


REFERENSI

Bosworth,Ce. 1993.  Dinasti-dinasti Islam. Bandung: Penerbit Mizan.
Hitti,Phillip K. 2014. History of the Arabas. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
Labels: SEJARAH ISLAM

Thanks for reading Sejarah Dinasti Zangiyah. Please share...!

0 Komentar untuk "Sejarah Dinasti Zangiyah"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top