Sejarah Kerajaan Bali (Balidwipamandala)

Peta Bali
Tidak hanya di puau Jawa dan Sumatera yang memiliki banyak kerajaan dan tercatat dalam sejarah, Bali pun demikian, 

beberapa kerajaan yang ada di Bali, juga tidak kalah penting untuk di pelajari, 

dikarenakan Bali sebagai pulau yang sampai sekarang masih menyimpan berbagai kekayaan budaya dari zaman dahulu sehingga menarik  apabila dapat di pelajari sejarah kerajaan di Bali.

Sumber tertua dari bangsa asing tentang Bali satu-satunya berasal dari Cina. 

Yang terdapat dalam kitab sejarah dinasti T’ang Kuna. Selain itu juga dalam kitab Chu-fa-chih Bali di sebut dengan nama Ma-li. 

Selain itu, tidak ada lagi keterangan apapun mengenai Bali di dalam kitab-kitab bangsa Cina atau bangsa asing lainnya.

Kesulitan sejarawan mendapatkan sumber di Bali, mengakibatkan pada keterangan yang serba terbatas tentang  kerajaan yang ada di Bali, 

kesulitan itu di dalam salah satu buku, disebabkan karena terdapat beberapa buah prasasti yang samapi sekarang masih tersimpan dan di hormati oleh warga Bali, yang masih sangat terikat dengan adat.

KERAJAAN-KERAJAAN DI BALI

Kerajaan Singhamandawa

Sampai sekarang, dimana letak pusat kerajaan Singhamandawa masih belum di  ketahui secara pasti, 

hanya saja sejarawan berspekulasi bahwa kemungkinan kerajaan Singhamandawa ini terletak di antara Kintamani (danau Batur) dan pantai Sanur (Belanjong), 

yaitu kira-kira di derah sekitar Tampaksiring dan Pejeng, atau di antara aliran sungai Patanu dan Pakerisan. 

Selain itu, di temukan juga tujuh buah prasasti dan angka tahunnya antara 804-836 S, prasasti ini di namakan tipe yumu pakatahu (ketahuilah oleh kamu sekalian), karena kalimat awal nya di awali dengan kalimat tersebut.

Menurut beberapa tokoh orang tua Bali, mengatakan bahwa kerajaan Singhamandawa terletak di desa Pejeng sekarang, tapi hal itu belum dapat di buktikan. 

Singhamandawa mengandung unsur perkataan singha (singa) dan mandawa (pandawa). 

Di  Bali sekarang juga terdapat tempat yang menggunakan unsur nama singa,  seperti Singaraja di pantai utara Bali dan dua buah desa di daerah kabupaten Gianyar yaitu Singapadu dan Singakerta.

Prasasti tersebut di atas yang tertua berangka tahun 804 S / 882 M. 

Berisi tentang perintah kepada senapati Danda, kumpi Marodaya dan tiga orang Bihksu supaya membangun pertapaan dan pesanggrahan di daerah bukit Cintamani. 

Prasasti selanjutnya yang di temukan berangka  tahun 818 S / 896 M, berisi tentang perintah kepada nayakan praddhana kumpi Ugra dan Bhiksu Widyaruwana agar membangun sebuah kuil untuk Hyang Api di desa Bhanwa Bharu.

Prasasti lain berangka tahun 833 S / 911 M. 

Di sebut prasasti Turunan, Isinya antara lain tentang pemberian ijin kepada penduduk desa Turunan untuk membangun kuil bagi Bhatara Da Tonta. 

Kemudian prasasti selanjutnya berangka tahun 833 S / 911 M. 

Isi bagian permulaan hampir sama dengan prasati Turunan, selanjutnya di atur juga perihal orang desa Air Rawang yang tinggal di daerah desa Turunan di sebelah timur teluk danau Batur sekarang. 

Bahwa setiap  bulan kedua Bhatara Da Tonta harus di hormati, dimandikan dengan air danau, dibedaki kuning, diberi cincin permata. 

Dan di bagian akhirnya terdapat sebuah kutukan kepada siapa yang melanggar keputusan itu.

Selanjutnya masih ada dua prasasti lain yang sejenis, tetapi tidak berangka tahun. Salah satu dari kedua prasasti tersebut tidak dapat di salin karena lempengannya sangat rusak. 

Sebuah lagi berangka tahun 836 S / 914 M. Hanya terdiri dari kulit lempengan saja, isinya pemberian ijin kepada kuil Ida Hyang di Bukit Tunggal Paradyan Indrapura di desa Air Tabar. 

Prasasti lainnya juga berasal dari mahkamah Singhamandawa, tetapi hanya tinggal satu lempengan dan tidak berangka tahun. 

Isinya antara lain memberi ijin kepada Bhiksu Siwarudra, Anantasuksma dan Prabhawa serta kepada penduduk Simpatbunut di bawah perintah kepala kehutanan supaya membuat pertapaan di kuil Hyang Karimana yang di hubungkan dengan kuil Hyang Api.

Berdasarkan keterangan beberapa prasasti tersebut tadi, bisa di ketahui bahwa di pulau Bali telah ada sebuah kerajaan yang pemerintahannya berpusat di Singhamandawa, 

siapa raja yang memerintah tidak di ketahui, kecuali beberapa orang pejabat tinggi pemerintahan yang di sebut di dalam prasasti

Tetapi beberapa buah prasasti yang berangka tahun 837 S – 888 S. 

Ada yang menyebut nama raja Ugrasena dan menyebut panglapuan di Singhamandawa. 

Prasasti itu juga termasuk tipe yumu pakatahu, karena itu, bahwa di pastikan bahwa Sri Ugrasena adalah seorang raja yang pernah berkuasa di Bali dengan pusat pemerintahannya di Singhamandawa. 

Beberapa prasasti raja Ugrasena yang di temukan antara lain yaitu.
  • Prasasti berangka tahun 837 S / 915 M. Berisi tentang desa Sandungan yang di tetapkan di bawah pengawasan kepala kehutanan. 
  • Prasasti berangka tahun 839 / 917 M. Menyebutkan bahwa Sang Ratu Sri Ugrasena pergi kedesa Buwunan. 
  • Prasasti berangka tahun 844 S / 922 M. Berisi tentang desa Julah yang di rusak oleh musuh sehingga banyak penduduk yang di tawan. 
  • Prasasti berangka tahun 846 S / 924 M. Isinya tentang pembebasan penduduk Kundungan dan Silihan yang memikul  beban berat kerja rodi di bawah seorang Ser (pemimpin). 
  • Prasasti berangka tahun 855 S / 933 M. Berisi tentang desa Haran yang di ijinkan membangun pesanggrahan atau kuil Hyang Api di Manasa dan Batuan. 
  • Prasasti berangka tahun 857 S / 935 M. Isinya tentang penduduk desa Parcanigayan yang di ijinkan membangun pesanggrahan di kuil Hyang Api. 
  • Prasasti berangka tahun 864 S/ 942 M. Isinya hampir sama dengan prasasti sebelumnya.
Dengan berkaca pada prasasti-prasasti yang di temukan di atas dapat  di duga bahwa pemerintahan yang berpusat di Singhamandawa tersebut sudah maju dan teratur. 

Hal ini dapat dibuktikan dengan sistem pemerintahan yang mengenal berbagai macam jabatan, baik para senapati, bhiksu, maupun para petugas lainnya. 

Demikian juga soal pembagian warisan, perpajakan, perdagangan, upacara keagamaan, sudah di atur oleh pemerintah di Singhamandawa.

Wangsa Warmmadewa

Nama warmmadewa mulai muncul memerintah di Bali sejak tahun 835 S, keterangan ini di peroleh dari tiga buah prasasti batu berbentuk tugu. 

Raja pertama yang di sebut dalam prasasti itu adalah Sri Kesariwarmmadewa, raja ini yang menjadi cikal bakal dinasti Warmmadewa di Bali. 

Dua tahun berikutnya muncul raja bernama Sang Ratu Sri Ugrasena (837-864 S), masa pemerintahannya sejaman dengan Mpu Sindok di Jawa Timur, 

salah satu prasastinya yang terpenting yaitu prasasti Buwunan. 

Kemudian muncul lagi Raja bernama Ratu Sri Aji Tabanendra Warmadewa (877-899 S) ia memerintah dengan permaisurinya yang bernama Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Warmadewi (Dharmadewi), pada tahun 882 S, 

muncul raja bernama Indra Jayasingha Warmadewa, di susul dengan raja Janasadhu Warmadewa 897 S.

Kemudian pada tahun 905 muncul seorang raja perempuan bernama Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. 

Menurut Van Stein Callenfes ratu ini mungkin putri dari kerajaan Sriwijaya, atau kemungkinan adanya perluasan kekuasaan Sriwijaya ke daerah ini. 

Setelah itu muncul raja bernama Dharma Udayana Warmadewa (923 S). 

Ia memerintah bersama permaisurinya yaitu Gunapriya Dharmapatni, seorang putri dari Jawa Timur. 

Keduanya mempunyai beberapa keturunan, salah satunya yaitu Airlangga yang lahir di Bali 922 S. 

Udayana dan Gunapriya di gantikan oleh  Dharmawangsa-wardhana Marakatapangkaja Sthanottunggadewa (944 – 947 S), 

kemudian di gantikan oleh raja bernama Paduka Haji Anak Wungsu (971 - 999 S), yang merupakan anak dari raja Udayana. 

Raja yang memerintah setelah Anak Wungsu adalah Sri Maharaja Sri Walaprabhu, ia merupakan raja pertama yang menggunakan gelar Maharaja, 

kemudian setelah di selingi oleh beberapa raja lainnya, pada  tahun 1247 S muncul lagi seorang raja yang menggunakan gelar rajakula Warmadewa, 

yaitu Paduka Sri Maharaja Bhatara Mahaguru Dhramottungga Warmadewa.

Pura Taman Ayun

Wangsa Lainnya di Bali

Setelah pemerintahan Sri Walaprabhu, kemudian muncul seorang ratu bernama Sri Maharaja Sri Sakalendukirana Isana Gunadharma Laksmidhara Wijayottunggadewi. 

Dari raja ini hanya di peroleh tia buah prasasti yang berangka tahun 1010 S, 1020 S, dan 1023 S. 

Masa pemerintahannya sejaman dengan raja Jayawarsa di Kadiri. Pengganti Sakalendukirana bernama Sri Suradhipa (1037-1041 S). 

Raja Suradhipa di gantikann oleh Sri Maharaja Sri Jayasakti, ia di katakan merupakan penjelmaan dewa Wisnu, 

setelah raja Jayasakti kemudian terdapat beberapa raja yang memerintah di pulau Bali yang menggunakan unsur nama Jaya (kemenangan), seperti hal nya raja Jayabhaya di Kadiri.

Raja Jayasakti kemudian di gantikan oleh raja Ragajaya (1077 S). 

Berapa tahun ia memerintah tidak dapat di ketahui secara pasti karena sampai sekarang hanya satu buah prasasti yang menyebut nama Ragajaya. 

Pada masa Ragajaya, agama Siwa dan Buddha berkembang dengan baik. 

Raja Ragajaya kemudian di gantikan oleh raja Jayapangus (1099-1103 S). 

Menurut sumber yang tidak kurang pentingnya, yaitu kitab Usana Bali (abad XVI M), di sebutkan bahwa raja Jayapangus memerintah sebelum raja Jayakasunu, 

tetapi Jayakasunu belum pernah di jumpai dalam prasasti, sebaliknya  raja Jayasakti dan Ragajaya keduanya tidak di kenal dalam cerita Tradisi. 

Tidak lama setelah raja Jayapangus meninggal, kedudukannya di gantikan oleh seorang raja bernama Sri Maharaja Haji Ekajayalancana yang memerintah bersama ibunya, 

prasastinya berangka tahun 1122 S. Empat tahun kemudian muncul seorang raja bernama Bhatara Guru Sri Adikuntiketana. Prasastinya berangka tahun 1126 S.

Pada tahun 1182 S, muncul seorang raja bernama Paduka Bhatara Parameswara Sri Hyang ning Hyang Adidewalancana. 

Kemudian muncul raja bernama Bhatara Guru, tiga tahun kemudian yaitu tahun 1250 S, raja Bhatara Guru mangkat, hal ini berdasarkan prasasti Salumbung. 

Kemudian pada tahun 1259 S, yang memerintah Bali adalah Bhatara Sri Atsasura Ratna Bumi Banten, ia adalah raja terakhir Bali yang merdeka. 

Enam tahun kemudian, GajahMada berhasil menaklukkan bumi Bali (1265 S).

STRUKTUR PEMERINTAHAN

Para Senapati

Untuk mengetahui susunan pemerintahan raja-raja di Bali, sejarawan mengalami kesukaran, 

hal ini di sebabkan karena tidak semua raja di Bali meninggalkan keterangan yang dapat di pergunakan untuk menyusun gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu. 

Di antara raja-raja Bali yang banyak meninggalkan keterangan tertulis berupa prasasti yaitu raja Anak Wungsu, Jayasakti, dan Jayapangus. 

Selain itu juga ada raja Ugrasena yang juga meninggalkan cukup banyak prasasti.

Dalam pemerintahan, raja di bantu oleh suatu badan Penasihat Pusat. 

Dalam prasasti tertua, badan itu di sebut panglapuan, somahanda senapati di panglapuan, pasamaksa dan palapknan. 

Menurut Goris para senapati pada masa lampau dapat dibandingkan dengan punggawa pada jaman kerajaan Gelgel dan Klungkung setelah Majapahit. 

Menurut prasasti yang di temukan dari tahun 804 S sampai dengan tahun 836 S, jumlah senapati semuaya hanya tiga orang, 

selain itu nama senapati Sarbwa selalu di sebut paling dahulu, kemudian menyusul senapati Dinganga dan baru yang terakhir senpati Danda.

Pada masa pemerintahan Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi (905 S), mulai muncul jabatan baru yaitu Senapati Dalmbunut dan Senapati Waranasi, dengan berbagai nama orang dari masing-masing senapati tersebut. 

Sewaktu pemerintahan Marakatapangkaja ada banyak jabatan senapati, hingga 8 jabatan senapati. 

Begitupun masa pemerintahan Anak Wungsu, ada 10 buah jabatan Senapati. 

Para pejabat Senapati juga mengalami perombakan seperti pada jaman Gunapriya Dharmapatni beserta Udayana, begitupun juga raja-raja yang lain. 

Selain pejabat Senapati juga masih banyak terdapat para petugas lainnya.

Para Pendeta Siwa dan Buddha

Golongan kedua yaitu para pendeta, yang didalam prasasti tertua dikenal dengan sebutan Bhiksu. 

Di dalam prasasti-prasasti golongan pendeta Siwa disebut dengan gelar Dang Acaryya, sedangkan golongan pendeta Buddha di sebut dengan Dang Upadhyaya. 

Umumnya golongan pendeta Siwa lebih mennjol dan lebih banyak jumlahnya di bandingkan dengan pendeta agama Buddha. 

Pada masa pemerintahan Anak Wungsu, jumlah pendeta besar agama Siwa yang menggunakan gelar Dang Accarya paling sedikit 21 orang, 

sedangkan pendeta Buddha yang bergelar Dang Upadhyaya hanya empat orang saja. 

Sewaktu pemerintahan raja Ragajaya dan Jayapangus jumlah Dang Accarya juga lebih besar, yaitu Dang Accarya 16 orang, sedangkan Dang Upadhyaya hanya lima orang. 

Seperti halnya para senapati, para pendeta juga mengalami pergeseran kedudukan, sebagai contoh misalnya pada masa Anak Wungsu.

Dalam struktur pemerintahan di kerajaan Singhamandawa, selain Senapati dan pendeta kita juga mengenal beberapa istilah yang di gunakan untuk menyebut sebuah jabatan pemerintahan, 

yaitu Sang Mathani (semacam kepala desa), Pakirakiran (penilai), Paramadyasta (penengah), Caksu (mata-mata), Nayaka (pimpinan, pembimbing), Manuratang / Panulisan (penulis), dan tentunya masih banyak lagi.
Goa Gajah

STRUKTUR MASYARAKAT

Golongan dalam Masyarakat

Pada masa pemerintahan raja Anak Wungsu masyarakat di bagi menjadi dua kelompok besar, yaitu golongan catur warna dan golongan luar kasta (Budak). 

Pembagian itu sebetulnya berasal dari India (Hindu). 

Menurut prasasti yang berangka tahun 995 S, sejarawan menjumpai bahwa selain empat kasta juga terdapat golongan budak yang berada di luar kasta, yang di kenal dengan kaum Jaba yang berarti luar. 

Ada yang mengatakan bahwa kaum Jaba sama dengan Sudra, akan tetapi banyak yang beranggapan bahwa kaum ini berada di luar Triwangsa. 

Karena mereka tidak mau dan merasa terhina apabila disebut kaum sudra.

Masyarakat pada saat itu juga sudah mendapatkan kebebasan antara lain hak bebas bicara dan boleh menghadap raja secara langsung. 

Di samping itu peraturan-peraturan mengenai perkawinan, perbudakan, kematian, pencurian, dan sebagainya di atur dengan baik.

Di dalam pembagian warisan, hak laki-laki lebih besar daripada hak perempuan atas warisan. Sebagai contoh misalnya di dalam prasasti Bukit Cintamani. 

Pada masa pemerintahan Marakatapangkaja di jumpai istilah patlun atau tribhagan dalam pembagian warisan, 

cara pembagian patlun ini masih tetap di pakai hingga masa pemerintahan Raja Jayasakti dan Jayapangus. 

Dan pada zaman Anak Wungsu, di peroleh keterangan yang lebih jelas tentang  pembagian patlun, daripada keterangan yang di peroleh dari prasasti sebelumnya.

Dalam bidang kesenian, di prasasti-prasasti Anak Wungsu di sebutkan beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu, dan dibedakan menjadi dua kelompok yaitu seni kraton dan seni rakyat. 

Akan tetapi, pada masa sebelumnya juga yaitu pada masa Gunapriya dan Udayana seni tontonan juga sudah di bedakan menjadi dua kelompok, yaitu seni kraton dan seni rakyat (berkeliling).

Dalam bidang agama dan kepercayaan, pada masa pemerintahan raja Sri Wijaya Mahadewi, tidak mengetahui dengan pasti agama apa yang di anut pada masa itu, 

hanya saja, terdapat nama-nama Bhiksu yang memakai unsur nama Siwa, sehingga dapat di simpulkan, 

agama yang berkembang pada masa itu adalah agama Siwa, yang rupanya juga berkembanga pada masa pemerintahan raja Ugrasena, Tabanendra, dan Janashadhu Warmadewa.

Kemudian masa pemerintahan Udayana dan Gunapriya ada dua aliran agama besar yang di peluk oleh penduduk yaitu agama Siwa dan Buddha. 

Pada masa pemerintahan Anak Wungsu, di dalam prasastinya disebutkan bahwa, Anak Wungsu adalah sebagai Inkarnasi dewa Hari (Wisnu). 

Anak Wungsu dan juga raja lainnya seperti Jayapangus tergolong seorang penganut aliran Waisnawa yaitu pemuja dewa Wisnu. 

Selain kepada dewa-dewa Trimurti, masyarakat pada zaman dahulu juga menyembah dan menyatakan rasa takutnya kepada dewa-dewa lainnya. 

Di dalam prasasti disebutkan juga berbagai macam bangunan suci yang tergolong banyak pada masa itu.

Perekonomian Rakyat

Pada jaman dahulu, perimbangan antara jumlah penduduk dan tanah yang tersedia masih baik, artinya tanah, ladang dan sawah dapat di katakan masih cukup luas, sedangkan penduduk relatif masih sedikit. 

Jumlah penduduk Bali pada masa pemerintahan Anak Wungsu (abad XI M), diperkirakan sebanyak 150.000 jiwa. 

Umumnya masyarakat Bali pada waktu itu hidup bercocok tanam, hal ini dapat diketahui dari beberapa buah prasasti yang menyebutkan istilah parlak (sawah kering), gaga (ladang), kebwan (kebun), mmal (ladang daerah pegunungan), dan kasuwakan (pengairan sawah).

Pada masa raja Marakatpangkaja, mungkin juga pada masa sebelum dan sesudahnya, penggarapan sawah telah maju dan tidak jauh berbeda dengan cara pengolahan sawah para petani pada waktu sekarang. 

Selain hidup bercocok tanam atau bertani, masyarakat Bali dahulu juga memelihara binatang ternak, dan juga suka berburu. 

Dan binatang yang paling berharga pada masa dahulu di Bali yaitu jaran / asba (kuda).

Di samping bercocok tanam serta beternak dan berburu, di dalam masyarakat Bali kuno juga di kenal beberapa kelompok pekerja khusus seperti pande mas, wsi, tambra (tembaga), dan kangsa (perunggu), mereka tugasnya membuat perhiasan-perhiasan dari emas, alat-alat rumah tangga, alat-alat pertanian dll. 

Selain itu ada juga pekerja lain seperti undahagi kayu (tukang kayu), undahagi batu (tukang batu), undahagi lancang (tukang perahu) dll.

Perdagangan antar pulau pada masa itu juga tergolong cukup maju, hal ini dapat kita ketahui dari prasasti Banwa Bharu yang menyebutk apabila ada saudagar yang mendarat lalu mati,

sebagian miliknya disumbangkan ke kuil Hyang Api, kalau perahunya pecah, kayu kayunya harus dipakai sebagai pagar kota.

Pada masa itu juga sudah mengenal pajak atau iuran serta denda yang bermacam-macam. 

Bahkan pada jaman Anak Wungsu tercatat ada tidak kurang 70 macam pajak, atau mungkin malahan lebih. 

Pajak-pajak ini diatur oleh raja sedemikian rupa sehingga tidak memberatkan penduduk. 

Tetapi di dalam kenyataanya bermacam-macam pajak ini menimbulkan berbagai macam persoalan karena pegawai pemungut pajak kadang-kadang berbuat sewenang-wenang terhadap penduduk dengan menaikkan jumlah pajaknya.

REFERENSI

Poesponegoro, Marwati Djoned dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka, 1992.
Labels: SEJARAH INDONESIA

Thanks for reading Sejarah Kerajaan Bali (Balidwipamandala). Please share...!

0 Komentar untuk "Sejarah Kerajaan Bali (Balidwipamandala)"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top