-->

Kami Menjerit, Bukan Menggonggong (Nasib Nelayan Lamongan)

"Legalkanlah jaring kami. Aksi kami untuk memperjuangkan pekerjaan kami, bukan untuk mencaci maki dan mencari musuh serta mengkriminalisasi".

Lamongan, 8 Januari 2018

Resahnya Nelayan Lamongan

Dalam tulisan ini saya hendak mengungkapkan permasalahan yang sedang dialami mayoritas orang yang bekerja di pesisir pantai utara Jawa, khususnya di Lamongan. Bukan bermaksud mengkritisi, bukan bermaksud menganalisis, tapi hanya bermaksud membela, membela suara rakyat kecil dengan jeritan yang kami alami karena kebijakan pemerintah yang merugikan kami.
Peraturan menteri yang melarang jaring penangkap ikan cantrang membuat para nelayan Lamongan tak bisa lagi melaut, mereka hanya bisa diam dan menggunjing pemerintah di warung kopi dan media sosial, apalah daya mereka hanya hidup dengan usaha mereka sebagai seorang nelayan.
Terbatasnya kemampuan dalam hukum dan kurang mampunya mereka melawan peraturan pemerintah membuat mereka hanya bisa berharap semoga pemerintah berbaik hati menghapus peraturan yang melarang mereka untuk bekerja.

Aksi Nelayan Pantura Lamongan 8 Januari 2018

Dampaknya bagi kehidupan Lamongan

Alasan yang menjadikan pemerintah bertindak dan mengeluarkan aturan adalah karena adanya anggapan bahwa alat tangkap yang dipakai nelayan Lamongan tergolong merusak terumbu karang. Trumbu karang yang harusya sebagai tempat ikan berkembang biak dianggap dirusak oleh jaring para nelayan.
Anggapan tersebut nyatanya ditolak mentah-mentah oleh para nelayan Lamongan, mereka tidak merusak. Selama ini nelayanlah yang menjadi pusat perekonomian warga Lamongan pantura. Tak hanya seorang nelayan saja yang merasa dirugikan, ada buruh pikul, buruh memilah ikan (yang mayoritas di lakukan oleh ibu-ibu dan para janda yang menghidupi annaknya), tukang becak, dan orang yang juga mengais rejeki di Lamongan pantura lainnya.
Bagi pemerintah, mereka mengeluarkan kebijakan tersebut beralasan karena faktor alam. “bagaimana nasib anak cucu kita nanti kalau terumbu karang dirusak?”  katanya.
Anak cucu mana yang mereka pertanyakan?
Sebenarnya, mereka bilang anak cucu yang tidak jelas dan abstrak. Padahal secara jelas idealnya anak cucu yang mereka maksud adalah anak cucu kami para nelayan.
Apabila mereka memperdulikan anak cucu yang belum nampak di muka bumi. Maka bagaimana nasib anak cucu kami yang sekarang sudah jelas-jelas hidup dan membutuhkan penghidupan?

Masa Depan Anak Nelayan

Bukanlah sebuah keinginnan bagi para nelayan untuk menjadikan anak mereka sebagai seorang nelayan juga. Pastilah nelayan Lamongan menginginkan adanya perubahan tatanan sosial yang mengarah kepada peningkatan kualitas hidup mereka. Terbukti dengan banyaknya para anak nelayan yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ke seluruh Indonesia dan banyak dari mereka yang sudah memiliki pekerjaan yang lebih baik.
Perbaikan kualitas kehidupan tersebut mau tidak mau semakin lama akan mengikis para nelayan yang semakin lama akan semakin habis sebagai konsekuensi dari perbaikan kualitas hidup mereka. Maka apabila kita berpikir kedepan, maka  itulah yang nelayan inginkan, tidak akan mereka membiarkan para anak-anak mereka melanjutkan tradisi nelayan.
Jadi, tidak sepatutnyapemerintah meluncurkan peraturan manteri yang mendiskriminasi para nelayan Lamongan, karena mereka membutuhkan pekerjaan mereka. Tidak pernah salah satu dari mereka menuntut pemerintah memfasilitasi kegiatan melaut mereka, hanya minta diizinkan.
Kami tidak menuntut ini itu, kami hanya ingin diberikan hak hidup dan mencari penghidupan.
Jika pemerintah hanya berfikir faktor alam dan lingkungan sebagai akibat dari adanya cantrang, maka sebenarnya kebih dari itu, faktor ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesejahteraan adalah dampak yang lebih besar akibat dari adanya peraturan menteri yang melarang kami bekerja.
Legalkanlah jaring kami. Aksi kami untuk memperjuangkan pekerjaan kami, bukan untuk mencaci maki dan mencari musuh serta mengkriminalisasi.
Labels: OPINI

Thanks for reading Kami Menjerit, Bukan Menggonggong (Nasib Nelayan Lamongan). Please share...!

0 Komentar untuk "Kami Menjerit, Bukan Menggonggong (Nasib Nelayan Lamongan)"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top