-->

Cadaran atau Enggak, Terserah Mereka dong

Kontroversi tentang wanita bercadar memang sekarang menjadi persoalan yang pelik. Tidak jarang perdebatan terjadi diantara orang yang setuju dengan adanya cadar dan tidak setuju dengan cadar. Persoalan cadar dalam taraf itu tidaklah perlu dijadikan masalah. Karena perbedaan argumen dan pembelaan terhadap argumen mereka merupakan sebuah hal yang wajar.

Perlunya sebuah penanganan dan pemahaman kembali terhadap sebuah faham yang menilai bahwa wanita bercadar identik dengan faham radikalisme. Stigma negatif tersebut memang didasarkan pada fakta bahwa ideologi Islam yang konservatif dan fundamentalis lah yang biasanya menganjurkan wanitanya untuk menggunakan cadar. Maka dari itu, tidak jarang para kelompok liberalis menilai bahwa cadar lebih identik pada faham radikalis.

Saya memang tidak ahli dalam bidang dalil mendalil tentang dasar bercadar maupun tidak bercadar. Saya juga memiliki kecenderungan bahwa hijab adalah persoalan Local Wisdom. Akan tetapi di sini tidak akan membahas persoalan hijab sebagai sebuah penutup aurat dalam ranah syariah.



Terlepas dari aturan syariah, apakah cadar itu Islami atau Arabi, artinya syariat Islam atau budaya Arab, sebenarnya cadar bukanlah menjadi sebuah masalah apabila seorang wanita memakainya. Melihat situasi dan kondisi bahwa saat ini wanita bercadar memang merupakan minoritas dan lebih banyak mendapatkan diskriminasi dari berbagai pihak. Selain karena penampilan yang berbeda dengan yang lain, juga wanita bercadar diidentikkan dengan faham Islam yang fundamentalis.

Sisi positif dari pemakaian cadar bagi sebagian kecil wanita muslimah adalah, bahwa cadar melindungi mereka dari godaan jahat para lelaki yang punya mata berhobi ria kesana kemari menikmati indahnya alam dan pesona ciptaan Tuhan. Dengan bercadar, wanita kemungkinan kecil akan mendapatkan perlakuan negatif dari seorang lelaki. Karena memang, tidak akan ada nafsu dari seorang lelaki dan keinginan untuk menjelajahi hasrat mata mereka dalam melakukan pengamatan yang manusiawi.

Selain itu juga, saya memberikan analogi sebagai berikut. Bahwa seorang pria melihat seorang wanita bercadar pastilah wajah dari wanita tersebut yang membuat pria itu penasaran. Sedangkan seterusnya, seorang pria melihat wanita berjilbab tanpa bercadar, maka rambut dari wanita itulah yang membuat pria itu penasaran. Dan seorang pria apabila melihat seorang wanita tidak berjilbab dan memakai baju longgar, bentuk dan lekuk tubuhlah yang membuat pria itu penasaran. Dan seterusnya, apabila seorang pria melihat wanita memakai pakaian ketat, maka melihat wanita itu memakai pakaian bikini lah yang membuat pria itu penasaran. Dan terakhir. Ketika pria melihat seorang wanita memakai bikini, maka apakah yang membuat pria itu penasaran? (jawab di komentar)

Maka sebenarnya banyak sisi positif dari cadar seorang wanita. Dan sebenarnya, ketidaksukaan seseorang terhadap wanita bercadar hanyalah sebuah stigma negatif yang didasakan pada pengambilan kesimpulan secara generalisasi yang menurut saya kurang sempurna. Selain itu wanita bercadar harusnya juga mendapatkan hak dalam memakai pakaian mereka. Selain karena mereka menjalankan apa yang mereka yakini. Mereka juga memiliki hak yang sama sebagai warga negara.

Maka kembalikan kepada prinsip demokrasi yang diterapkan negara Indonesia, sejauh mana masyarakat diperbolehkan untuk menjalankan agama yang mereka yakini, terlepas dari adanya berbagai macam aliran yang menyebar di seluruh pelosok negri. Apa nasibnya negeri ini apabila cadar di diskriminasi dan menimbulkan perdebatan dari berbagai versi, sedangkan wanita yang memamerkan lekuk tubuh seksi dibiarkan yang pada akhirnya menimbulkan pelecehan dan kriminalisasi.

Baca Juga :   
Labels: OPINI

Thanks for reading Cadaran atau Enggak, Terserah Mereka dong. Please share...!

0 Komentar untuk "Cadaran atau Enggak, Terserah Mereka dong"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top