Ideologi Warung Kopi

"Adanya keseruan dan kebebasan dalam berpikir daripada mereka untuk memberikan kongklusi yang menurut mereka relevan, bukan untuk dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan agama, malainkan hanya sarana  memuaskan batin setelah sekian lama membahasnya", Ideologi Warung Kopi.



Ideologi Warung Kopi - Warung kopi sebagai tempat untuk menikmati secangkir kopi menjadi tempat favorit sebagian kaum muda. 

Tak jarang mereka menjadikan warung kopi sebagai tempat untuk berkumpul dan bercengkrama dengan kawan lainnya, khusunya di kota-kota yang banyak dikunjungi oleh mahasiswa dari luar kota. 

Warung kopi menjadi primadona bagi para mahasiswa ketika mereka sedang suntuk memikirkan tugas dari dosen di kampus.

Pasalnya, tak hanya menjadi aktivitas menjual membeli dan meminum kopi saja, warung kopi zaman now semakin mulai memiliki fungsi lain selain fungsi aslinya. 

Warung kopi kerap kali dijadikan sebagai tempat untuk bercengkrama dan berdiskusi dengan teman. 

Terkadang ada kalanya digunakan sebagai tempat untuk mencari inspirasi.

Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, warung kopi tak lagi hanya menjadi sarana orang untuk hanya meminum kopi. 

Warung kopi kerap kali diigunakan sebagai tempat untuk berdiskusi sambil bercengkrama mahasiswa dengan para teman sekampus maupun seorganisasi. 

Dengan menikmati secangkir kopi yang nikmat dan tentunya fasilitas lain yang disediakan yaitu koneksi internet (wifi).

Kenyamanan yang disuguhkan masing-masing warung kopi kepada para pengunjungnya membuat penikmat kopi merasa betah dan menghabiskan waktu yang lama di warung kopi. 

Dalam suasana semacam ini, pasti ada saja obrolan yang dimulai oleh salah satu oknum kawan yang membuat yang lain meras terpancing untuk menanggapi. 

Maka terjadilah sebuah pembicaraan dari yang paling ringan hingga berat, dari menanyakan kabar dan cerita pasangan hingga berbicara masalah Tuhan dan agama. Dari diskusi berbekal bacaan buku hingga hanya modal dengkul dan logika improvisasi.

Tak jarang mereka mengalami masa dimana otak mereka terasa stagnan dan tak sanggup lagi untuk berpikir. 

Tak jarang pula dari mereka memiliki kesimpulan yang seratus persen ngawur dan hanya bermodalkan logika njomplang mereka. 

Apalagi membahas sesuatu yang mereka sama sekali belum memiliki modal bacaan ketika akan membahasnya.

Beberapa pembahasan berat yang sering dilakukan oleh penikmat kelas warung kopi biasanya adalah seputar politik, agama, bahkan filsafat, dengan banyak melakukan intermezzo-intermezzo berbau seksual dan melakukan sedikit gerakan-gerakan mata yang melirik dan mengarah kepada embak-embak penjaga kasir warung kopi.

Dalam pembahasan politik, seperti gelar yang disandang mereka yaitu mahasiwa, mereka berdiskusi dengan kritis dan dengan data-data yang biasanya akurat, apalagi seorang mahasiswa aktivis yang apa-apa selalu rakyat yang dibicarakan. 

Pada intinya mereka yang aktivis ideologinya sederhana, saya memetakannya menjadi dua pandangan yaitu, Tidak mau dikuasai oleh kapitalis, dan Berpihak kepada rakyat menengah kebawah yang tertindas oleh siapapun.

Pembahasan politik yang mereka bawakan memang tak akan pernah terlepas dari adanya kritik kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah yang dinilai tak berpihak pada rakyat kecil. 

Misalnya sekarang mahasiswa di Jogja sedang gencar-gencarnya berdiskusi soal bandara baru yang akan dibangun di Kulon Progo yang dianggap merampas hak tempat tinggal rakyat Kulon Progo dan mengusirnya dari tanah tempat tinggalnya secara paksa. 

Maka mahasiswa aktivis Jogja tidak akan jauh dari pembahasan yang sedemikian itu.

Tak hanya politik, agama pun menjadi objek bahasan mereka. 

Agama dalam sudut pandang politik dan budaya apalagi. 

Mereka jarang membahas agama secara normatif, seringkali mereka membahas agama dengan sudut pandang historis. 

Maka adanya keseruan dan kebebasan dalam berpikir daripada mereka untuk memberikan kongklusi yang menurut mereka relevan, bukan untuk dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan agama, malainkan hanya dijadikan sebagai kepuasan batin setelah sekian lama membahasnya.

Yang menarik adalah ketika mereka membahas tentang filsafat, karena filsafat tidak membatasi pemikirnya dalam menuangkan gagasan berpikirnya. 

Seperti yang disebutkan diatas bahwa mereka terkadang berdiskusi hanya bermodal dengkul dan logika improvisasi. 

Maka filsafat adalah kajian yang menjadi idola bagi para mahasiswa peserta kelas warung kopi.

Dalam pembahasan filsafat mereka tidak hanya berbicara yang sesuai konsep dan teori dalam logika, terkadang mereka juga sering kebablasan ketika membahas masalah Tuhan dan akhirat. 

Tak jarang mereka mengucapkan kata-kata yang jikalau didengar oleh orang awam akan terasa rancu dan akan diharamkan. 

Berhubung ini mahasiswa dan dalam ranah kajian filsafat, maka bagi mereka ini sah sah saja. “aku berpikir maka aku ada” ujar Rene Descartes.

Ideologi Warung Kopi - Berpikir adalah idola bagi mereka para mahasiswa, banyak hal positif yang didapat dari ideologi mereka yang muncul di warung kopi. 

Tidak sedikit dari mereka yang malas masuk kelas di kampus akan tetapi semangat sekali apabila masuk kelas warung kopi. 

Disinilah letak sisi positif dari adanya kelas warung kopi, akan tetapi tidak kemudian ideologi warung kopi ini tak memiliki dampak negatif.

Pulang terlalu pagi, hingga tidak masuk kelas karena tidur, hingga penyimpulan keliru yang terkadang dijadikan pedoman membuat kelas warung kopi memiliki sisi negatif juga. 

Akan tetapi sebenarnya dampak negatif ideologi warung kopi bukanlah mutlak dari adanya kelas warung kopi. 

karena tidak semua peserta kelas warung kopi akan bangun kesiangan, dan tidak semua peserta kelas warung kopi menyimpulkan secara keliru saat pembahasan berlangsung. 

Maka hanya segelintir orang saja yang dianggap sebagai representasi adanya dampak negatif.

Ideologi warung kopi menjadi berkualitas seiring bertambahnya peminat kelas warung kopi, dan alangkah baiknya jika hal ini terus dipertahankan dan diperbaiki kualitasnya. 

Para mahasiswa berdiskusilah sesukanya, akan tetapi jangan lupakan data dan sumber, karena mahasiswa adalah para generasi emas bangsa, mahasiswa dilahirkan bukan untk menjadi ngawur, mahasiswa dilahirkan untuk menjadi tonggak kemajuan bangsa dalam bidang pendidikan.

Baca Juga : 
Labels: OPINI

Thanks for reading Ideologi Warung Kopi. Please share...!

0 Komentar untuk "Ideologi Warung Kopi"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top