Mahasiswi Bercadar Jadi Sasaran (Perspektif Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga)

Apakah Bercadar dilarang?
 
Fenomena tentang cadar baru-baru ini sangat memuncak setelah keluarnya surat edaran dari kampus UIN Sunan Kalijaga tanggal 20 Februari 2018 akan dilakukannya pembinaan kepada mahasiswi bercadar di lingkungan kampus. 

Keluarnya surat tersebut memicu pro dan kontra bagi kalangan mahasiswa dan berbagai pihak. 

Termasuk beberapa media yang secara silih berganti datang ke kampus dan mewawancarai beberapa mahasiswa terkait dengan pandangan mereka terhadap kebijakan baru tersebut.

Beberapa media memang memberikan pengaruh yang besar tentang prespektif orang luar tentang kebijakan pembinaan bagi mahasiswi bercadar. Padahal sejatinya pihak kampuslah yang paling tahu menahu tentang kebijakan tersebut. 

Maka dilakukanlah konferensi pers agar tidak terjadi kesalahpahaman atau bahkan lebih memahamkan pandangan orang luar dan mahasiswa UIN sendiri tentang kebijakan kampus mereka.


Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof, Drs, KH, Yudian Wahyudi, MA., Ph.D, memberikan penjelasan terkait dengan peraturan baru tersebut. 

Ia sebagai rektor UIN Sunan Kalijaga memberikan pandangannya terkait dengan ideologi yang harusnya berkembang dan tidak berkembang di lingkungan kampus UIN. 

Lagi-lagi dalam hal ini Hizbut Tahrir Indonesia menjadi organisasi yang dari dulu sampai sekarang sudah dibubarkan pun masih menjadi bahan yang menarik untuk diperdebatkan.

Hizbut Tahrir Indonesia sendiri (HTI), dalam hal ini bisa dikatakan menjadi akar dari permasalahan yang sedang terjadi. 

UIN sebagai kampus yang berada dibawah naungan Kementrian Agama sangat menolak dan tidak dikehendaki untuk menyetujui konsep tawaran HTI yaitu Khilafah. 

Terlepas dari dasar hukum dan landasan ideologi khilafah, dalam konteks ini HTI dianggap sebagai pemberontak negara, karena memang ideologinya yang tidak sejalan dengan negara dan bahkan adanya keinginan untuk merubah dasar negara Indonesia sesuai dengan yang apa mereka cita-citakan.

Dalam hal aturan pembinaan terhadap mahasiswi bercadar di UIN Sunan Kalijaga HTI juga memberikan pengaruh yang sangat penting. 

Melalui penjelasan rektor UIN Sunan Kalijaga, HTI berani menunjukkan eksistensi dirinya dengan memasang bendera-bendera mereka di kampus UIN Sunan Kalijaga, dan itu dinilai sangat meresahkan. 

Dengan demikian, supaya faham-faham yang sudah dilarang oleh negara itu tidak semakin berkembang biak dan merajalela di UIN Sunan Kalijaga, maka diberlakukannya aturan tentang pembinaan terhadap mahasiswi yang bercadar. Kenapa harus mahasiswi bercadar? Apakah semua mahasiswi bercadar itu HTI?


Selain alasan tersebut diatas, alasan lain bahwa pengetahuan keisalaman mahasiswa UIN Sunan Kalijaga diharapkan bisa lebih luas lagi, dengan pemahaman yang cenderung mengedepakan jalur moderasi, dan dalam konteks Indonesia juga mengedepankan falsafah negara. 

Mahasiswa UIN diharapkan mampu membedakan mana dalam Islam yang berupa syariat (yang harus dipatuhi dan dijalankan), dan mana yang bersifat budaya (bukan syariat Islam). Dalam hal ini adalah mana yang Islami dan mana yang Arabi.

Persoalan lain yang juga menjadi alasan diberlakukannya pembinaan tersebut yaitu adanya pengucilan diri sendiri. 

Perbedaan tampilan yang mereka suguhkan didepan umum pastinya memberikan stigma yang berbeda terhadap orang lain. 

Penguculian diri sendiri artinya adalah, ketika mereka (yang bercadar) sudah membatasi pergerakan dan interaksinya terhadap orang lain, baik itu teman lawan jenis maupun teman yang tidak sealiran dengan mereka. 

Terlebih lagi adanya pembatasan mereka terhadap orang tua mereka, karena ideologi yang mereka anut sejatinya adalah baru muncul ketika mereka masuk dalam kampus UIN Sunan Kalijaga yang dikenal sebagai kampus Islam yang memuat berbagai macam aliran dalam Islam.

Maksud dari penjelasan diatas adalah bahwa mereka yang dianggap sebagai penganut ideologi khilafah (teridentifikasi oleh cadar) hanya sebagai korban dari doktrin-doktrin yang sebenarnya memang menjaring orang-orang seperti mereka (tidak berbekal agama yang kuat). 

Sebagian besar orang menyebutkan bahwa memang mahasiswa yang tergabung dalam organisasi radikal atau berideologi khilafah adalah kerena memang kurang kuatnya landasan agama yang mereka dapat sebagai bekal untuk belajar disiplin ilmu agama lain dikemudian hari (masih pro dan kontra).

Sasaran Pembinaan Mahasiswi Bercadar


Selama ini persepsi yang berkembang di masyarakat umum adalah bahwa orang yang bercadar dan berpakaian hitam-hitam diidentikkan dengan aliran-aliran radikal dalam Islam. Padahal tidak semua wanita bercadar berafiliasi pada organisasi radikal.

Dalam konteks ini juga tidak semua mahasiswi UIN Sunan Kalijaga yang bercadar berafiliasi pada organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). 

Banyak mahasiswi yang menggunakan cadar akan tetapi tidak termasuk dalam organisasi tersebut, sebaliknya tidak semua mahasiswi yang tidak bercadar, tidak tergabung dalam organisasi tersebut.


Persoalan yang kemudian muncul adalah, bagaimana pihak rektorat bisa mengetahui mana saja mahasiswa mereka yang berideologi khilafah secara valid, sedangkan HTI secara organisasi telah dibubarkan oleh pemerintah, dan orang juga akan kesulitan apabila menyeleksi dari sisi ideologi mereka satu persatu ditengah banyaknya mahasiwa yang ada di UIN Sunan Kalijaga. 

Solusi yang kemudian muncul adalah dengan melihat sesuatu yang nampak pada diri orang itu sendiri, yaitu cadar.

Dalam konteks ini HTI pernah menunjukkan eksistensinya di UIN Sunan Kalijaga dengan mengibarkan bendera-bendera mereka. 

Diambil gambarnya dan kemudian tersebar dikalangan mahasiswa dan dosen UIN Sunan Kalijaga melalui media sosial. Dalam gambar itu terlihat jelas orang-orangnya semua memakai cadar, sambil membawa bendera HTI.

(Gambar 1)

(Gambar 2)

(Gambar 3)
Pembinaan yang dilakukan terhadap mahasiswi bercadar sebenarnya juga sekaligus menjadi sarana seleksi bagi pihak kampus untuk mengetahui mana yang tergabung dan berideologi khilafah dan mana yang bukan. 

Dalam keterangan yang lain disebutkan bahwa pembinaan itu dilakukan untuk memberikan pencerahan bagi mahasiswi yang bercadar agar tidak ikut serta dalam ideologi dan organisasi yang sudah dilarang oleh pemerintah tersebut. 

Dan apabila mahasiswi yang bersangkutan masih tetap pada pendiriannya (berideologi khilafah dan mengancam negara), maka akan dikenakan sangsi berupa dipindahkannnya ia ke kampus yang lain (sesuai dengan keterangan yang diberikan pada saat konferensi pers oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga).


Pandangan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga


Pro dan kontra tentang permasalahan terkait akan dilakukannya pembinaan terhadap mahasiswi yang bercadar sebenarnya menarik untuk dijadikan bahan diskusi bagi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. 

Pasalnya tidak semua kalangan bisa menerima kebijakan tersebut. 

Tidak sedikit mahasiswa yang menilai bahwa kebijakan tersebut tergolong mendiskriminasi sekelompok orang.

Hak berpakaian atau hak memilih untuk menggunakan pakaian adalah salah satu alasan mereka yang tidak setuju dengan adanya kebijakan tersebut. 

Mereka menilai bahwa kampus tidak berhak mengatur tentang apa yang dipakai oleh mahasiswa maupun mahasiswi UIN Sunan Kalijaga. 

Asalkan tidak melanggar batas-batas yang telah ditentukan. 

Dalam hal ini UIN adalah kampus berbasis agama Islam, maka batas-batas pakaian yang berlaku adalah aturan Islam.

Cadar bagi mereka yang tidak setuju adalah hak setiap pemakainya, mahasiswi bebas memilih untuk bercadar atau tidak. 

Banyak juga sisi positif yang diberikan oleh pemakai cadar. 

Cadar dapat memberikan pelajaran bagi para lelaki untuk menundukkan pandangannya dan tidak sembarangan dalam memandang wanita. 

Termasuk di lingkungan kampus yang menuntut mahasiswa dan mahasiswi untuk selalu berinteraksi, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (dan bagi seorang mahasiswi tersebut) yaitu melindungi diri dari pandangan lelaki bukan saudara, maka cadar menjadi solusi bagi mereka.

Selain itu, ada juga yang menyetujui kebijakan tersebut, meskipun dalam batas-batas tertentu. 

Mereka yang menyetujui kebijakan rektorat masalah pembinaan terhadap mahasiswi bercadar berdalih bahwa memang apabila mahasiswi itu sudah benar-benar teridentifikasi bahwa ia adalah penganut ideologi khilafah, karena penanganan terhadap ideologi khilafah bukan hanya tugas UIN Sunan Kalijaga, akan tetapi juga tugas seluruh bangsa Indonesia.

Selain itu juga, mereka berpendapat bahwa penanganan terhadap ideologi khilafah tidak mesti berujung pada pelarangan cadar, karena kembali lagi bahwa cadar adalah sebuah pakaian yang pihak kampus tidak berhak mengaturnya. 

Terlalu ekstrem apabila kampus melarang cadar karena diidentikkan dengan aliran khilafah, padahal sejatinya tidak semua mahasiswi yang bercadar berafiliasi pada ideologi maupun organisasi kilafah.

Pandangan-pandangan diatas nyatanya masih dalam koridor komentar secara bijak, akan tetapi banyak juga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga memberikan komentar mereka tentang kebijakan tersebut dan mendukungnya dengan penuh gairah dan semangat. 

Menurut mereka, memang sudah seharusnya cadar dilarang oleh kampus, karena mahasiswi bercadar dinilai mengganggu, volume suara mereka yang cenderung sangat minim, dan kurang bergaulnya mereka terhadap teman-teman yang lain menjadi alasan kelompok ini untuk mendukung dan menilai bahwa keputusan rektor sangatlah tepat.

Komentar mahasiswa UIN Sunan Kalijaga diatas dapat diambil kesimpulan bahwa memang mereka juga tidak menghendaki adanya aliran radikal atau yang terbungkus dalam ideologi khilafah. 

Mereka mendukung penuh kampus untuk memberantas khilafah oriented yang berkembang di lingkungan kampus. 

Akan tetapi hal yang mereka tolak adalah adanya anggapan bahwa mahasiswi bercadar diidentikkan dengan penganut faham radikal (khilafahisme). 

Selain karena banyak hal positif yang muncul akibat pemakaian cadar, hak setiap wanita muslimah dalam memakai cadar pun menjadi alasan mereka untuk tidak serta merta menerima dan menyetujui kebijakan baru yang dikeluarkan pihak kampus tersebut.



Sebagai mahasiswa yang dididik sebagai seorang akademisi, patutlah untuk meninjau masalah berdasarkan fakta dan penalaran yang bersifat akademis. 

 Mahasiswa tidak dikehendaki mempunyai sifat sektarian, karena mahasiswa diciptakan sebagai seorang peneliti, dan peneliti haruslah bersifat netral, tidak memihak kiri maupun kanan. 

Dengan begitu cita-cita kampus dalam menciptakan insan akademisi yang menghiasi warna dunia pendidikan Indonesia akan terwujud. 

Selain itu juga, di tangan mahasiswa masa depan bangsa ini bertaruh. Bagaimana nantinya masa depan negara ini apabila generasi yang paling diandalkan (mahasiswa) tidak berkompeten dan tidak mampu menjawab tantangan tersebut.

Simak video konferensi pers yang dilakukan oleh pihak rektorat UIN Sunan Kalijaga :

Konferensi Pers Rektor UIN Sunan Kalijaga Tentang Pembinaan Mahasiswi Bercadar(Sumber: Youtube.com)

Labels: OPINI

Thanks for reading Mahasiswi Bercadar Jadi Sasaran (Perspektif Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga). Please share...!

0 Komentar untuk "Mahasiswi Bercadar Jadi Sasaran (Perspektif Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga)"

Tulis komentarmu di sini

Back To Top